The Lord of the Rings: The Return of the King
Sekuel terakhir The Lord of the Rings menjadi film terbesar
dan terdahsyat milenium ini. Satu dari sedikit film yang berhasil mengangkat
sebuah karya sastra menjadi karya film yang sama besarnya, sekaligus sukses
secara komersial.
KIAMAT telah lewat. Setelah cincin dilebur ke dalam lava
Mount Doom, segala yang jahat dan hitam di atas Middle Earth kemudian runtuh
seketika menjadi api. Setelah melalui neraka ini, seperti juga awal dari segala
kehidupan, peleburan cincin terkutuk Sauron itu sekaligus menjadi sebuah
pengumuman dan pertanda yang telah dinanti: Sauron punah, kejahatan
luluh-lantak. Untuk beberapa menit yang dinanti, setelah tiga sekuel trilogi
sepanjang sembilan jam, kepada para penonton setia The Lord of the Rings disajikan
serangkaian adegan kehancuran Menara Kegelapan Mordor, tempat Sauron—kali ini
muncul dengan visualisasi The Eye, sebuah mata besar api yang menatap seluruh
kegiatan di atas Middle Earth.
Pada sekuel ketiga, Jackson tidak berlarat-larat
menceritakan kembali apa yang terjadi pada The Fellowship of the Rings dan The
Two Towers. Ia langsung saja membelah film sepanjang 3 jam 20 menit ini ke dua
bagian besar yang nantinya berakhir menjadi satu. Pertama, lanjutan perjalanan
Froddo dan Samwise diiringi Gollum/Smeagel (diperankan oleh Andy Serkis dengan
kreasi komputer CGI), sebuah makhluk yang di masa lalunya adalah Hobbit yang
berevolusi akibat kekuataan cincin itu dan masuk ke tubuh Gollum.
Kedua, kisah Aragorn (Viggo Mortensen)—putra mahkota
Kerajaan Gondor yang enggan duduk di takhta kerajaan itu—yang akhirnya kembali
ke kerajaannya, tempat ia dititahkan oleh garis tangannya dan demi menjawab
keinginan rakyatnya. Tetapi tentu saja sebelum semua sosok bisa duduk dengan
tenteram di atas kerajaan yang aman sentausa, mereka harus melalui sebuah
perang besar yang telah ditakdirkan: perang akbar melawan Sauron dan seluruh
pasukannya yang terdiri dari berbagai makhluk zalim di atas bumi: gajah
bergading empat, sembilan naga bersayap berwajah purba, dan berjuta Orc,
makhluk tanpa bentuk yang secara fisik menampilkan kekejian dan simbol dari
keburukan dari yang paling buruk.
Seluruh pasukan pembela Middle Earth di bawah pimpinan
Aragorn didampingi oleh Penyihir Agung Gandalf (Ian McKellen), Peri Legolas
(Orlando Bloom), dan Gimli, sang Kurcaci (John Rhys-Davies). Semua berkuda
menuju Minas Tirith, ibu kota Kerajaan Gondor, untuk bertarung dalam sebuah
"peperangan terbesar abad ini," demikian ungkap Sang Penyihir Agung
Gandalf. Inilah taktik peperangan yang diharapkan akan mengganggu konsentrasi
Sauron. Dengan demikian, Froddo dan Samwise bisa tiba di tepi jurang lava untuk
memenuhi tugas berat melemparkan cincin terkutuk itu.
Kedahsyatan film ini tentu saja bukan karena teknologi yang
dioptimalkan habis-habisan melalui adegan perang akbar dan berbagai makhluk
yang tampak begitu nyata: sosok Gollum ciptaan komputer, yang tampak senyata
aktor manusia yang bersanding selama perjalanan; laba-laba Raksasa Shelob yang
membuat kita menggigil; atau pemandangan seluruh kawasan Gondor dan
benteng-benteng yang merupakan gabungan antara karya kompugrafik dengan
footage. Jackson menyelenggarakan "perkimpoian teknologi" itu dengan
luar biasa! Superb! Tetapi, di antara kemegahan teknologi, film ini juga tetap
menampilkan momen-momen yang tidak hanya menyentuh, tetapi berhasil
"merampas" hati.
Perjalanan panjang Froddo dan Samwise, yang bukan hanya
diwarnai tantangan dan penderitaan, lebih mengoyak hati karena kesetiaan
Samwise yang tak terbantahkan sepanjang zaman. Bahkan ketika Froddo kehilangan
kepercayaan akibat hasutan Gollum. "Jangan pergi ke tempat yang tak bisa
kuikuti," katanya kepada Froddo berkaca-kaca. Seperti dalam hidup, hanya
pada akhir kisah, setelah penuh darah dan air mata, Froddo menyadari bahwa
Gollum adalah makhluk yang mengkhianatinya, bukan Samwise yang sudah diusirnya.
Di tepi Mount Doom yang dialiri lava, Froddo memberikan pernyataan penting
dengan air mata "I'm glad to be with you Samwise Gamgee, here at the end
of all days" Dan ucapan itu cukup memancarkan cahaya kegembiraan sang
Hobbit yang setia dan penuh pengabdian pada Samwise. Adegan ini sekaligus
memperlihatkan, Samwise adalah pahlawan yang sesungguhnya. Froddo adalah simbol
keberanian dan ketabahan hati.
Adegan tragis lainnya adalah subplot Faramir (David Wenham),
putra dari Denethor, steward (penguasa sementara) dari Minas Tirith. Denathor
(diperankan dengan baik oleh John Noble) berduka atas kematian putra
sulungnya—dalam sekuel The Two Towers—hingga saat Faramir dalam pingsan,
Denethor yang mulai kehilangan ingatan berniat membakar diri dan Faramir
hidup-hidup. Adegan-adegan lain lebih merupakan romantisme dalam setiap cerita
fantasi: Kepada Pippin, Gandalf bersabda tentang indahnya hidup setelah
kematian.
The Lord of the Rings: The Return of the King menjadi karya
agung abad ini. Novel yang penuh dengan inspirasi legenda dan sejarah yang
diangkat menjadi film epik ini akan menjadi barometer terpenting dalam sejarah
perfilman dunia bagi mereka yang berikutnya akan membuat sebuah film epik.
Sutradara Peter Weir (Master and Commander: the Far Side of the World), Anthony
Mingella (The Cold Mountain), Edward Zwicks (The Last Samurai) layak
mendapatkan nominasi penghargaan Academy Awards. Tetapi adalah Peter Jackson,
sutradara trilogi The Lord of the Rings, yang layak memborong penghargaan
tahunan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar