Kategori

Rabu, 26 Maret 2014

PENDIDIKAN KARAKTER 4

dari : Taufik Hidayat

Di era sekarang, karakter merupakan sesuatu yang jarang ditemukan pada masyarakat Indonesia. Dilihat dari banyaknya ketidakadilan serta kebohongan-kebohongan yang dilakukan masyarakat kita. Bahkan ditingkat yang lebih tinggi sendiri, yaitu pemerintah yang tak mengenal lagi sebuah karakter diri sebagai makhluk Tuhan dan sosial. Menurut Prof. Suyanto Ph.D,karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Potensi karakter yang baik telah dimiliki tiap manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-natural) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan-natural). Pendidikan merupakan salah satu wadah dalam menunjang pembentukan karakter tiap individu. Sekolah Dasar adalah merupakan pendidikan awal penanaman karakter anak dalam perkembangan dirinya. Tak bisa kita mungkiri bahwa banyaknya generasi di Indonesia, yang tidak mengenal dirinya sebagai bangsa Indonesia—yang memiliki berbagai macam suku, budaya, dan kultur sosial yang berbeda.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran atau amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Meskipun semua pihak bertanggungjawab atas pendidikan karakter calon generasi penerus bangsa (anak-anak), namun keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Untuk membentuk karakter anak, keluarga harus memenuhi tiga syarat dasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Yaitu,maternal bonding, rasa aman, stimulasi fisik dan mental. Selain itu, jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya juga menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak di rumah. Kesalahan dalam pengasuhan anak di keluarga akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru (didengar dan dicontoh), dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
Kegagalan guru dalam menumbuhkan karakter anak didiknya, disebabkan seorang guru yang tak mampu memperlihatkan dan menujukkan karakter sebagai seorang yang patut didengar dan diikuti. Sebagai seorang gurutidak hanya sekedar menyampaikan materi ajar kepada siswa. Namun, yang lebih mendasar dan mutlak adalah bagaimana seorang guru dapat menjadi inspirasi dan suri tauladan yang dapat merubah karakter anak didiknya—menjadi manusia yang mengenal potensi dan karakternya sebagai makhluk Tuhan dan sosial.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Jika karakter anak telah terbentuk sejak masa kecil mulai dari lingkungan sosial sampai Sekolah Dasar, maka generasi masyarakat Indonesia akan menjadi manusia-manusia yang berkarakter—yang dapat menjadi penerus bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil, jujur, bertartanggung jawab—sehingga tercipta masyarakat yang aman dan tentram sebuah suatu negara.Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Memahami Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.



Karakteristik Perkembangan anak 
usia kelas awal SD serta Pembelajaran Tematik-Keuntungan Penggunaan

Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD serta Pembelajaran Tematik-Keuntungan Penggunaan

Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.

Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.

Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

Pembelajaran Tematik-Keuntungan Penggunaan

Sesuai dengan tahapan karakteristik perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar,  konsep belajar dan belajar bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman belajar bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan  memberikan banyak keuntungan, di antaranya: (1) Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu; (2) Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama; (3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; (4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik; (5) Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; (6) Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; (7) Guru dapat menghemat waktu karena beberapa mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan,  waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.





demikian tadi sekelumit mengenai pendidikan karakter dari berbagai sumber,



MATUR KASUWUN

PENDIDIKAN KARAKTER 3

Model-­ Model Pembelajaran dalam Penanaman Karakter Sejak Dini Oleh Puji Yanti Fauziah 

Pendahuluan
“ Belajar ketika masih kecil ibarat Mengukir diatas batu, sedangkan belajar ketika sudah dewasa  seperti mengukir diatas air” istilah tersebut sangat popular dan memiliki makna yang dalam. Istilah tersebut juga mengandung makna yang sesuai dengan konsep pendidikan anak usia dini yang sangat mementingkan stimulasi sejak dini agar anak dapat belajar banyak dan mengembangkan potensi dan
Minat yang dimiliki anak Yang akan memberikan pengalaman dan kenangan yang begitu kuat terhadap anak, hal ini sangat berbeda ketika kita kita sudah dewasa apalagi jika kita menyinggung entang karakter dan watak yang sudah menjadi kesatuan dalam  kepribadian sehiangga untuk merubahnya akan jauh lebih sulit. Sehingga penanaman karakter sejak dini menjadi kunci utama dalam mebentuk karakter positif anak dan menjadi pondasi kepribadian yang akan menjadi orang yang memiliki karakter kuat. Bagaimana karakter dapat ditanamkan sejak dini dan model pembelajaran apa yang sesuai dengan tumbuh kembang anak, makalah ini akan membahas Tentang  model--model pembelajaran yanga akan menjadi alternative dalam mengimpelemntasikan pendidikan karakter sejak dini.

Pembahasan

A. Pendidikan Karakter
Kirl Patrick menjelaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat terlepas dari
moral absolut yaitu nilai-nilai positif yang berasal dari berbagai agama yang menjadi
sumber dalam bersikap dan berperilaku. Maka moral absolut yang berasal dari
agama ini menjadi sesuatu yang harus ditanamkan sejak dini karena berkaitan
dengan ajaran baik dan buruk dalam berperilaku.
Pendidikan karakter merupakan proses yang sangat panjang karena pendidikan
karakter tidak hanya melakukan transfer of value tetapi menanamkna kbiasaan yang
baik sampai menajdi karakter individu yang akan turut membnetuk identitas pribadi
sehingga membutuhkan proses karena dituntut tidak hanya mengetahui tetapi warga
belajar dapat mengetahu, merasakan dan pada kahirnya mau melakukan kebiasaan
positif sehingga menjadi karakter anak.
Lickona menjelaskan tentang tahapan dalam pendidikan moral setidaknya
ada empat tahapan yaitu knowing, reasoning, feeling dan acting. Sedangkan
Megawangi sebagai tokoh pendidikan karakter di Indonesia menyebutnya dengan 9
Pilar pendidikan karakter yaitu : 
(1) cinta Tuhan dan kebenaran; 
(2) tanggungjawab,kedisiplinan, dan kemandirian; 
(3) amanah dan kejujuran; 
(4) hormat dan santun; 
(5)kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama; 
(6) percaya diri, kreatif, kerja keras, danpantang menyerah; 
(7) keadilan dan kepemimpinan; 
(8) baik dan rendah hati; serta
(9) toleransi, cinta damai dan persatuan. (Ummi April 2011).

Pendidikan karakter Suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada
warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan yang Maha
Esa, diri sendiri, hormat dan santun dll yang pada akhirnya proses pendidikan
adalah menjadikan manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan karakter merupakan
sebuah proses yang memerlukan waktu untuk melihat tentang dampak dan
efektivitasnya. Oleh karena itu para pendidik dan orang tua harus lebih bersabar,
lebih menyadari, dan lebih memahami bahwa pendidikan karakter membutuhkan
waktu agar anak dapat menginternalisasikan nilai-nilai positif yang didapatkan di
sekolah maupun di rumah menjadi karakter kepribadiannya.
Tujuan pendidikan karakter ini dapat dibedakan menjadi perubahan secara
personal dan perubahan secara lembaga. Perubahan personal yaitu dengan
terbentuknya pribadi-pribadi yang memiliki karakter kuat yang tidak mudah
terbawa arus negatf dan menjadi trend setter positif yang akan menjadi teladan
bagi lingkungan sekitarnya. Dari Individu-individu yang memiliki karakter kuat
pada akhirnya akan mebentuk lingkungan yang memiliki budaya yang sehat yang
dilahirkan dari karakter positif tersebut dan pada akhirnya akan membentuk
budaya yang sehat dalam setiap lembaga pendidikan menjadi school culture dan
family culture.

B. Model Program Pembelajaran di PAUD
Pembelajaran diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh
pendidik yang dapat mendukung peserta didik melakukan kegiatan belajar. Secara
umum pokok-pokok pembelajaran pada anak usia dini meliputi :

a) Belajar, bermain, bernyanyi. Dalam hal ini pembelajaran disusun dengan
mengembangkan esensi bermain

b) Belajar ketrampilan hidup. Ketrampilan sosial merupakan kecakapan yang
dimiliki seeorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan
wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta
menemukan solusi untuk pemecahannya (Depdiknas, 2002).

c) Belajar dari benda konkrit. Pada usia dini anak dalam tahap sensori motorik
hingga pra operasional dan anak belajar terbaik dari benda nyata

d) Belajar terpadu. Pembelajaran tidak berdasar mata pelajaran melainkan terpadu
dengan berdasar tema tertentu (tematik). Tema dasar dipilih dari kejadian keseharian
yang dialami, contoh : air, pasir, binatang, langit, hujan dll. Tema dasar dapat
dikembangkan menjadi sub tema, tema air dikembangkan menjadi air mancur, air
sungai, air minum, air laut, air hujan.
Berkenaan dengan pembelajaran di TK, sebuah model program pembelajaran
merupakan model pembejaran yang isinya berbagai program kegiatan belajar yang
menggunakan berbagai macam metode atau cara. Dalam kajian literatur ditemukan
ada 2 model besar dalam program pembelajaran untuk anak-anak usia dini, yaitu :

1) Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Model ini bertujuan agar pendidik dapat menjadi fasilitator dalam kegiatan
pembelajaran dan dapat membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri
( Halpern, 2005). Selain diyakini dapat meningkatkan prestasi akademik siswa,
model ini juga merupakan alternatif pengganti model tradisional yang memuat
pengajaran yang penuh dengan berbagai instruksi dari pendidik (Siegel, 2005).
Selama menggunakan model pembelajaran kooperatif, anak-anak secara aktif
terlibat dengan anak lain dan materi belajar. Kesuksesan implementasi dari model
ini adalah aktivitas atau program harus direncanakan, diorganisir, dan terstruktur
dengan tugas-tugas yang berkaitan dengan tujuan dari pembelajaran (Halpern, 2005).
Adapun beberapa bentuk dari model ini adalah

a) Diskusi berpasangan untuk bertukar fikiran.
b) Mengumpulkan informasi yang banyak dalam waktu singkat dengan membagi
kelompok-kelompok siswa.
c) Bermain peran (role playing), anak-anak memerankan keterampilan sosial.
d) Bermain dengan mencari jejak (maze atau maps).

2) Model pembelajaran kognitif sosial (Cognitive-social learning model)
Tujuan dari model ini adalah meningkatkan keterampilan sosial anak melalui
pembelajaran strategi kognitif sosial yang efektif dengan memberikan kesempatan
pada anak-anak untuk mempraktekkan perilaku sosial dalam berbagai macam
konteks sosial. Pada setiap sesi belajar, ada tiga keterampilan sosial yang
diperkenalkan (dengan menggunakan penjelasan, pendapat anak, dan ekspresi non
verbal yang ditampilkan ketika keterampilan sosial muncul).
Model pembelajaran ini dibagi 5 sesi pertemuan yang berkelanjutan dengan
situasi yang dihadirkan berbeda. Sesi pertama, dalam situasi ketika anak ingin
bermain dengan anak yang lain. Sesi kedua, bagaimana mereka dapat
menyampaikan ide atau aktivitas yang diinginkan. Sesi ketiga, anak-anak
dibelajarkan bagaimana sikap dan cara yang positif sesama teman. Sesi keempat,
anak-anak dibelajarkan bagaimana dia dapat berbagi mainan dengan anak yang lain.
Serta sesi kelima anak dbelajarkan bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah
dalam berbagai situasi konflik. Adapun tujuan pada sesi pertama adalah menolong
anak untuk berinisiatif dalam membentuk interaksi sosial positif dengan teman
sebaya. Sementara sesi-sesi yang lain adalah menjaga agar anak dapat
mempertahankan hubungan sosial yang positif dengan teman sebaya.

C. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Menurut UNESCO Early childhood education is defined as the period from
birth to 8 years old. A time of remarkable brain development, these years lay the
foundation for subsequent learning. Pendidikan anak usia dini didefinisikan periode
kehidupan dari lahir sampai usia 8 tahun, waktu yang menentukan dan dalam
mengembangkan otak anak, tahun-tahun ini merupakan pondasi awal dalam tahapan
pembelajaran. National Association for the education of young children (NAEYC)
menjelaskan bahwa tahapan ini adalah usia yang sangat rentan dalam kehidupan
manusia yaitu usia dari lahir sampai 8 tahun.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Early_childhood_education).
Ojala dalam Harkonen (1985, 14; 1993, 14) defines early childhood education
as an inter-active process in the sphere of life at home, day care and preschool that is
purposefully aimed at an all-encompassing personality development of between the
age from 0 to 6 years. Care, education and teaching in early childhood education are
integrated into one functional entity.
Pendidikan anak usia dini didefinisikan Ojala
sebagai proses interaktif dalam lingkungan baik di rumah, taman pengasuhan dan pra
sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian antara usia 0 sampai 6
tahun. Sedangkan secara praktis Ojala (1978: 308) menjelaskan bahwa pendidikan
anak usia dini sebagai ilmu praktis dimana aktivitas kegiatan dilakukan sebelum usia
pra sekolah. Dalam hal ini pra sekolah adalah bagian dari pendidikan anak usia dini.
Tujuan dari pendidikan anak usia dini adalah untuk mengembangkan semua aspek
perkembangan anak, selain pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan serta
pemenuhan kebutuhan dasar anak. Tahapan ini harus dapat mempersiapkan anak
dengan lembut dan matang menuju usia sekolah. Ojala menggarisbawahi bahwa
dalam pendidikan anak usia dini harus berdasarkan pada teori dan teori harus melihat
di lapangan. Beberapa teori perkembangan anak yang digunakan diantaranya Piaget,
Vygotsky, Froebel dan Ki Hajar Dewantara. Froebel adalah salah satu tokoh
pendidikan anak usia dini yaitu penemu pertama konsep taman kanak-kanak atau
kindergarten (http://www.faqs.org/childhood/Fa-Gr/Froebel-Friedrich-Wilhelm-
August-1782-1852.html). Beberapa pemikiran yang dibawa oleh Froebel adalah :
a) Kurikulum yang mendasari proses bermain anak.
b) Permainan bersifat instruktivistik.
c) Aspek yang dikembangkan dalam proses pembelajaran adalah mind, matter dan
Immanent.
d) Konsep tentang unity, diversity dan individuality.
e) Bermain adalah representasi dari aktivitas pribadi yang berasal dari inner
necessity atau kebutuhan internal anak.
f) Pendidikan akan lebih efektif jika adanya sinergitas atau perpaduan antara
sekolah dan rumah.
g) Tahun 1884 Froebel menulis buku Mother's Songs, Games and Stories yang
bertujuan untuk membantu para ibu untuk lebih efektif dalam mengasuh bayi atau
anak-anak agar tercipta masyarakat yang lebih baik.
Lev Semenovich Vygotsky (1896-1934) adalah salah satu tokoh pendidikan
anak usia dini pada pertengahan abad yang membawa sosiocultural theory yang
mengemukakan bahwa "how cultures -values, beliefs, customs and skills of social
group is transmitted to the next generation." (Berk 2003:26). budaya yang terdiri nilai,
kepercayaan, adat kebiasaan dan keterampilan yang dimiliki oleh kelompok
masyarakat ditransmisikan kepada generasi selanjutnya, dalam hal ini interaksi sosial
yang berupa dialog interaktif terhadap anak-anak sangat diperlukan dalam
membangun pola berfikir dan berperilaku. Dibawah ini beberapa pemikiran yang
dikemukakan oleh Lev Vygotsky :

a) Bahasa merupakan salah satu media yang memiliki peran penting dalam
perkembangan mental anak. Konsep yang dikenalkan adalah private speech or
self talk, kondisi ini terjadi ketika anak-anak menghadapi berbagai tantangan,
biasanya anak-anak melakukan private speech untuk mengelola rencana, arahan
atau mengevaluasi kelakuan mereka sendiri (Badrova and Burns 1996:6).
Menurut teori ini setiap tahapan proses mental menghasilkan proses mental yang
lain dalam perkembangan anak, pertama diproses dalam diri anak kemudian
berbagi dengan orang lain (intersubjektif) kemudian menginternalisasi dalam diri
anak dan digunakan secara mandiri dalam berkomunikasi dengan orang lain.

b) Teori lain adalah Zone of Proximal development (ZPD). ZPD adalah area antara
tahapan perkembangan anak dan tahapan perkembangan anak yang terkondisikan.
Perilaku anak yang mandiri tanpa intervensi dan perilaku anak yang di kondisikan
dengan berbagai macam permainan dapat meningkatkan potensi yang dimiliki
anak secara optimal, karena dengan mendukung dan memberikan dukungan main
membantu pertumbuhan anak.

c) Dari teori ZPD kemudian lahirlah konsep scaffolding atau pijakan yang di
hadirkan oleh Donovan and Smolkin ( Verenikina ) yang mengemukakan bahwa
konsep scaffolding dipengaruhi oleh teori vygotsky tentang ZPD. Scaffolding atau
pijakan bermain merupakan upaya yang dilakukan oleh guru untuk dapat
mengkondisikan lingkungan dalam mendorong perkembangan anak dan melihat
bakat yang dimiliki agar dapat berkembang secara optimal. Konsep scaffolding
berdasarkan pada pernyataan vygotsky bahwa kesadaran anak sangat dipengaruhi
oleh interaksi anak terhadap dunia sekitar, perkembangan mereka tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya, oleh karena itu pendidik berusaha
untuk membuat lingkungan yang dapat mendorong tumbuh kembang anak.
Tokoh anak usia dini yang lain yaitu Laura E Berk, menyatakan konsep
PAUD sebagai ilmu pengetahuan, praktis dan ilmu yang bersifat multidisiplin. Berk
mengemukakan bahwa dasar-dasar yang mempengaruhi perkembangan anak terdiri
dari beberapa tahapan yaitu dasar biologis, perkembangan masa prenatal dan
kelahiran.
Bayi banyak belajar mengenai keterampilan motorik dan kemampuan
dalam mempersepsikan. Berk mengemukakan bahwa ada beberapa aspek
perkembangan anak diantara yaitu aspek fisik, kognitif dan bahasa, personality,
perkembangan sosial, dan perkembangan moral. Ada beberapa unsur yang
mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu keluarga, media, teman sebaya dan
sekolah.
Tillman (2004) mengembangkan sebuah pembelajaran living values andan
educational Programme (LVEP). Program ini mengajak murid untuk memikirkan
diri sendiri, orang lain dan nilai-nilai dalam cara yang berkaitan. Program ini
memberikan pengalaman untuk membangun rasa percaya diri dan emmancing
kreativitas, potensi dan bakat setiap warga belajar.proses pembelajaran dilakukan
dengna berrefleksi, berimajinasi, berdialog, berkomunikasi, berkreasi, membuat
tulisan, menyatakan diri lewat seni, bermain dengan nilai yang diajarkan agar menjadi
karakter yag tertanam kuat dalam kepribadian anak. Dalam proses ini akan
berkembang keterampilanpribadi, sosial dan emosional.
Coles (2003) mengembangkan konsep tentang kecerdasan moral yang dihidupkan
dengan imajinasi moral yaitu kemampuan kita untuk tumbuh perlahan-lahan untuk
merenungkan mana yang benar dan salah. Kecerdasan moral anak sangat ditentukan
oleh keluarga, kelas, suku bangsa, kemasyaratakatan, media massa dan sekolah. Coles
banyak membahas tentang proses penamnaman moral yaitu lewat bahasa, kerjasama,
da pada masa awal yaitu pengenalan lewat bahasa nonverbal anak.

D. PAUD dan Pendidikan Karakter
Pencanangan pendidikan karakter oleh Kemdikanas membawa harapan besar
tentang perubahan paradigma pendidikan yang konstruktif dan substantive.
Konstruktif karena membentuk manusia kerkarakter diperlukan manusia-manusia
yang kreatif dan kritis dan akan menjadi trend setter bagi lingkungan. Proses
pembentukan manusia berkarakter bukan suatu proses yang singkat tetapi
membutuhkan waktu, strategi, finansial dan system terpadu yang dapat mensuport
pendidikan karakter menjadi sebuah school culture dan family culture. Tahapan
pendidikan dan penanaman karater setidaknya melalui empat tahapan : Knowing
(mengetahui) pada tahapan ini anak diberi pengetahuan tentang baik dan buruknya
perilaku dan norma yang ada dalam masyarakat. Tahapan kedua yitu reasoning yaitu
memberikan pemahaman tentang anak yang menimbulkan kesadaran dan dapat
merasakan oleh karena itu pada tahapan ketiga disebut dengan feeling, yaitu
merasakan dampak ketika anak melakukan kabaikan baik di sekolah maupun dirumah.
Tahap yang terakhir yaitu acting dimana anak mengambil tindakan sebagai wujud
dari pengetahuan, pemahaman dan perasaan anak sehingga akan terinternalisasi dalam
kepribadian anak. Proses internalisasi pendidikan karakter tidak dapat dilakukan jika
tidak melibatkan orang tua yang memiliki kontribusi besar dalam tumbuh kembang
anak terutama pada tahapan anak usia dini.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu program strategis yang
sedang banyak dikembangkan Wortham menyatakan Assesment should involve the
child and Family (2005 :22). Artinya identifikasi kebutuhan pendidikan anak usia dini
harus melibatkan orang tua dan pengasuh sebagai sumber informasi karena anak-anak
banyak menghabiskan waktu dirumah. Pra sekolah, Taman Kanak-kanak dan awal
pendidikan dasar lebih memahami tentang kebutuhan dan kemampuan anak dalam
belajar tetapi hal itu akan sulit dilakukan jika pada awal pembelajaran tidak
mendapatkan informasi dari orang tua tentang kebiasaan anak, kesukaan anak dan
kemampuan anak yang mennjol. Sehingga informasi yang didapatkan di rumah
dikembangkan di sekolah. Sekolah ibu juga berfungsi sebagai sarana komunikasi
antara orang tua dan lembaga PAUD untuk kemudian setelah anak mendapatkan
pendidikan karakter dapat dikembangkan dan diimplementasikan dirumah.

Kesimpulan
Pendidikan karakter sejak dini merupakan pondasi awal dalam mebmbentuk
karakter anak yang berujung pada pembentukan schoo culture dan family culture.
Model-model pembelajaran yang yang dapat menjadi alternative dalam
menanamkan pendidikan karakter yaitu lewat model pembelajaran cooperative
dan model kognitif sosial. Tahapan pendidikan karakter terdiri dari knowing,
reasoning, feeling dan acting. Konsep Pendidikan anak usia dini banyak
dikembangkan oleh Froebel, Vygotski, Berk dan Tillman yang banyak
menguraikan tentag nilai-nilai positif dalam kehidupan.

(Seminar Nasional IKA UNY 2011)


DAFTAR PUSTKA
Berk, L. E. (2003). Child Development. Sith Edition. USA: Illinois State
University.
Harahap, H.A.H & Dewantara, S. B. (1980). Ki Hajar Dewantara ditangkap
dipenjarakan dan diasingkan. Jakarta : Gunung Agung.
Harris, R. et all. (1995). Competency based Education and Training : Between
a Rock and a Whirlpool. Australia: MacMillan Education
Australia.Ltd.
Harkonen, U. ( tanpa tahun) Defining Early Childhood Education Through
Systems Theory. Finland : University Of Joensuu
http://sokl.joensuu.fi/harkonen/verkot/Defining%20early-Article.
pdf. (Diakses pada tanggal 13 Maret 2010).
Hurlock, E. (1999) . Perkembangan Anak. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lickona, T. (1992). Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect
and Responsibility. New York: Bantam Books.
Tillman Diane (2004). Living Values Acivities for Children Ages 8-14.

Jakarta Grasindo.



PENDIDIKAN KARAKTER 2

PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK SEJAK DINI

“ Saya berharap selalu memiliki kekuatan dan kebajikan yang cukup untuk mempertahankan apa yang saya anggap paling berharga, yaitu karakter dari seorang yang jujur”. (George Washington)

 Pendahuluan:
Karakter adalah sebuah kata yang tidak ada artinya jika tidak dihubungkan dengan manusia. Gordon Allport mendefinisikan karakter manusia sebagai kumpulan atau kristalisasi dari kebiasan-kebiasaan seorang individu. Sedangkan Chaplin mendefinisikannya sebagai kualitas kepribadian yang berulang secara tetap dalam seorang individu. Dari sudut proses pembentukkannya ada ahli yang mengatakan bahwa karakter manusia itu adalah turunan (hereditas), sebagian lain lagi mengatakan lingkungan yang membentuk karakter kepribadian seseorang. Kita tidak mempersalahkan ataupun membenarkan salah satu pandangan di atas. Yang pasti kedua faktor di atas sangat berperan di dalam pembentukan karakter kepribadian seorang manusia. Tapi yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa kebiasaan manusia setiap hari itulah yang akan membentuk karakter seorang manusia. 

Tulisan berikut ini akan menyajikan beberapa aspek kepribadian manusia yang perlu dibiasakan sejak dini pada anak atau pelajar sehingga dapat membentuk satu kepribadian yang tangguh dan mandiri di waktu yang akan datang.

1. Responsility
 Tanggungjawab dalam bahasa Indonesia terdiri dari dua kata penting yakni tanggung dan jawab. Tanggung berarti bersedia menerima apa yang ditugaskan kepadanya, bersedia memikul isi tugas yang dipercayakan kepadanya. Jawab dalam pengertian di sini berarti bersedia belajar dan memberikan penjelasan sesuai kompetensi pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.
Aspek psikologis dari Tanggungjawab ini adalah  keberanian menerima tugas, komitmen menjalankan, ketahanan mental selama menjalankan, dan keterbukaan untuk menerima konsekuensi positip dan negatip.  Maka seorang yang disebut punya karakter tanggungjawab berarti orang itu memiliki kesediaan untuk menerima, memiliki komitmen untuk menjalankan tugas tersebut sampai tuntas dan mengevaluasi serta menerima hasilnya baik positip maupun negatip.
Tanggungjawab seorang anak (pelajar) adalah menerima tugas belajar. Sekali menerima tugas ini ia harus komit untuk menjalankannya hingga tuntas pada akhir tahun pelajarannya. Seorang pelajar harus membiasakan diri untuk selalu belajar. Ia bukan balajar untuk lulus ujian, atau supaya menyenangkan orangtua dan guru, tetapi ia harus belajar untuk hidup. Ia harus membangun suatu kebiasan bertanggungjawab dengan menjalankan setiap tugas yang diberikan kepadanya hingga tuntas dan dievaluasi untuk melihat hasilnya. Tanggungjawab adalah suatu aspek kepribadian yang perlu dibangun sejak dini, mulai dari hal-hal yang sederhana yang akan menjadi dasar untuk hal yang lebih besar.



2. Self-Respect
Penghargaan terhadap diri sendiri mungkin dilihat banyak orang sebagai hal yang lucu. Karena penghargaan biasanya lebih banyak berhubungan dengan relasi dengan orang lain yaitu menghargai orang lain. Bahkan ada yang beranggapan ekstrim bahwa penghargaan terhadap diri adalah bentuk pemujaan diri. Terlepas dari anggapan di atas saya mau mengatakan bahwa penghargaan terhadap diri sendiri adalah dasar untuk menghargai orang lain. Bagaimana anda bisa menghargai orang lain kalau anda sendiri tidak menghargai diri sendiri? Penghargaan terhadap diri sendiri berarti berpikir positip, bersikap positip dan menerima  diri sendiri sebagaimana adanya. Dengan berpikir positip terhadap diri, orang dapat menemukan potensi dan bakat yang terpendam di dalamnya. Lalu dengan menerima hal-hal positip dan negatip yang ia miliki, maka ia merasa aman dengan dengan dirinya sendiri, dan akhirnya ia dapat tampil dengan penuh percaya diri. Penghargaan terhadap diri sendiri perlu dibangun sejak usia sekolah sehingga dapat menjadi dasar untuk kemajuan tugas-tugas yang akan dipercayakan kepadanya.

3. Doing The Right Thing
Melakukan hal-hal baik merupakan aspek kepribadian  yang perlu dibiasakan sejak dini. Kebiasaan baik ini dibentuk dengan latihan. Dan latihan melakukan hal-hal baik ini bisa terjadi di sekolah ataupun di rumah. Latihan di rumah akan didampingi orangtua, sedangkan di sekolah akan didampingi oleh guru. Orangtua dan guru hadir sebagai pendamping sekaligus motivator sehingga anak akan terus bersemangat melakukan hal-hal baik itu. Latihan yang dilakukan berulang kali akan sekaligus membentuk kebiasaan pada anak, dan selanjutnya kebiasaan ini akan menjadi bagian dari  kepribadian anak itu sendiri. Seorang pelajar perlu dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang dianggap baik oleh masyarakat sekitar,  sehingga dengan demikian kebiasaan ini akan berputar secara otomatis dalam hidunya setiap hari.

4. Respecting Others
Setiap orang tua dan guru di sekolah ingin supaya anak-anaknya memiliki kebiasaan menghargai orang lain. Sikap ini bukan hanya harapan orang tua dan guru tetapi adalah harapan setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika masih tinggal bersama orangtuanya di rumah, anak menjadi raja kecil. Semua permintaannya selalu dipenuhi, semua keinginannya selalu dikabulkan. Tetapi setelah ia  masuk sekolah, ia akan bertemu dengan tantangan baru, yaitu teman-temannya yang juga memiliki keinginan dan kemauan sendiri. Di sini anak perlu didampingi untuk mengembangkan sisi penghargaan terhadap temannya yang lain. Ia perlu juga menahan diri, memberi kesempatan kepada teman lain, menerima pendapat dan keinginan teman lain, serta berani untuk menerima kekalahan. Sikap-sikap lain yang perlu dikembangkan untuk mendukung aspek ini adalah kesabaran, menerima orang lain, mendengarkan orang lain, dan mengakui kelebihan orang lain.


5. Preventing Conflicts & Violence
Konflik dan kekerasan sering identik dengan kaum muda. Pelajar yang adalah bagian dari kaum  muda pun sering kena stikma ini. Tentu bukan tanpa alasan kaum muda mendapat stikma ini. Kenyataan membuktikan bahwa banyak terjadi tawuran antar pelajar, tawuran antara mahasiswa, dan tawuran pemuda antar desa. Kenyataan ini tentu memberi kita satu indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan karakter orang-orang muda kita ini. Apa itu? Mereka tidak dibekali dengan nilai-nilai kehidupan bersama yang patut diterima dan dihormati bersama. Selain itu oleh tekanan ekonomi dan tantangan hidup metropolitan yang begitu tinggi, menyebabkan mereka kehilangan pegangan hidup dan akhirnya sulit mengendalikan diri menghadapi konflik-konflik tersebut. Upaya membuat  preventing terhadap konflik dan kekerasan antar pelajar adalah dengan memberikan beban pekerjaan rumah yang banyak sehingga ia sibuk dan hanya berpikir tentang tugas belajarnya, atau juga dengan memberikan kursus-kursus ketrampilan lain sesuai dengan bakat dan talenta yang dimilikinya. Selain itu anak juga perlu pandai memilih kegiatan yang tidak cenderung pada konflik dan kekerasan.

6. Saying No to Alcohol and Other Drugs
Mengatakan No kepada Alkohol dan segala jenis obat bius adalah harapan semua orangtua kepada anaknya. Bahkan bukan hanya para orangtua, tapi sekolah, dan masyarakat pun sangat setuju dengan komitmen di atas. Banyak orangtua selalu cemas dan dengan ketat memantau keberadaan anaknya supaya tidak sampai terjebak ke dalam kebiasan buruk di atas. Gampang mengatakan No kalau kita belum pernah mengalami nikmatnya minuman keras dan obat bius. Tapi adalah sulit kalau kita sudah terjebak dalam kebiasaan minumun keras dan obat tersebut. Banyak orangtua sampai menjual semua harta bendanya untuk memulihkan anaknya yang ketagihan narkoba. Bukan itu saja, tapi kondisi fisik dan psikologis anak itu juga sangat memprihatinkan. Maka para anak perlu diperingatkan untuk tidak mencoba-coba minum atau mengkonsumsi narkoba. Mengapa perlu say No to Alcohol dan other Drugs? Karena untuk menghindari diri dari jebakan kebiasaan buruk yang akan membawa seorang siswa kepada kehancuran kepribadian.

7. Speaking of Sex

Seks adalah bahan yang paling menarik untuk diperbincankan di antara para remaja mulai dari SD hingga tingkat SMA. Mungkin dari rating pembicaraan antar remaja, topik yang satu ini yang paling banyak dan menarik diperbincangkan. Pendidikan seks perlu dan penting diperhatikan di sekolah-sekolah, karena Sex memiliki dimensi yang sangat luas. Adanya banyak aspek dan kepentingan yang terkontaminasi di dalam pembicaraan sex itu sendiri. Ada yang memandangnya dari segi bisnis, ada yang melihatnya dari segi pemuasan kebutuhan, ada yang melihatnya dari segi etika-moral. Di sini perlu sekali ada pendidikan sex di sekolah supaya sex itu sendiri ditempatkan tepat pada tempatnya sebagai ciptaan Tuhan, dan dibahas sesuai dengan tujuan penciptaannya. Revolusi sex dan segala dimensinya telah menyesatkan kaum remaja dan sekaligus menjerumuskan mereka kedalam lingkaran setan pemuasan nafsu belaka. Maka sejak awal anak perlu dibuka matanya untuk melihat sex bukan dari segi bisnis dan pemuasan hasrat sexual tapi terlebh sebagai ciptaan Tuhan yang  mulia dan dipergunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Penutup:
Karakter adalah wajah kepribadian seorang manusia. Mereka terdiri dari kebiasaan-kebiasaan yang berulang secara tetap pada setiap waktu dan tempat. Kebiasaan-kebiasaan ini tidak terbentuk satu kali jadi. Juga bukan bawaan sejak lahir, tatapi merupakan suatu kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu. Ia harus dilatih berulang kali hingga nanti tergerak otomatis. Para ahli mengatakan, ‘pertama-tama kau membentuk kebiasaan, setelah itu kebiasaanmu yang akan membentuk engkau.’ Mari kita membentuk kebiasaan positip anak-anak kita sejak dini, sehingga kemudian kebiasaan itu akan otomatis membentuk anak-anak kita.