Model- Model Pembelajaran dalam Penanaman
Karakter Sejak Dini Oleh Puji Yanti Fauziah
Pendahuluan
“ Belajar ketika masih kecil ibarat
Mengukir diatas batu, sedangkan belajar ketika sudah dewasa seperti mengukir diatas air” istilah tersebut
sangat popular dan memiliki makna yang dalam. Istilah tersebut juga mengandung makna
yang sesuai dengan konsep pendidikan anak usia dini yang sangat mementingkan stimulasi
sejak dini agar anak dapat belajar banyak dan mengembangkan potensi dan
Minat yang dimiliki anak Yang akan
memberikan pengalaman dan kenangan yang begitu kuat terhadap anak, hal ini sangat
berbeda ketika kita kita sudah dewasa apalagi jika kita menyinggung entang karakter
dan watak yang sudah menjadi kesatuan dalam
kepribadian sehiangga untuk merubahnya akan jauh lebih sulit. Sehingga penanaman
karakter sejak dini menjadi kunci utama dalam mebentuk karakter positif anak dan
menjadi pondasi kepribadian yang akan menjadi orang yang memiliki karakter kuat.
Bagaimana karakter dapat ditanamkan sejak dini dan model pembelajaran apa yang sesuai
dengan tumbuh kembang anak, makalah ini akan membahas Tentang model--‐model
pembelajaran yanga akan menjadi alternative dalam mengimpelemntasikan pendidikan
karakter sejak dini.
Pembahasan
A. Pendidikan Karakter
Kirl Patrick menjelaskan bahwa
pendidikan karakter tidak dapat terlepas dari
moral absolut yaitu nilai-nilai
positif yang berasal dari berbagai agama yang menjadi
sumber dalam bersikap dan
berperilaku. Maka moral absolut yang berasal dari
agama ini menjadi sesuatu yang
harus ditanamkan sejak dini karena berkaitan
dengan ajaran baik dan buruk
dalam berperilaku.
Pendidikan karakter merupakan
proses yang sangat panjang karena pendidikan
karakter tidak hanya melakukan
transfer of value tetapi menanamkna kbiasaan yang
baik sampai menajdi karakter
individu yang akan turut membnetuk identitas pribadi
sehingga membutuhkan proses
karena dituntut tidak hanya mengetahui tetapi warga
belajar dapat mengetahu,
merasakan dan pada kahirnya mau melakukan kebiasaan
positif sehingga menjadi karakter
anak.
Lickona
menjelaskan tentang tahapan dalam pendidikan moral setidaknya
ada empat tahapan yaitu knowing,
reasoning, feeling dan acting. Sedangkan
Megawangi sebagai tokoh
pendidikan karakter di Indonesia menyebutnya dengan 9
Pilar pendidikan karakter yaitu :
(1) cinta Tuhan dan kebenaran;
(2) tanggungjawab,kedisiplinan, dan kemandirian;
(3) amanah dan kejujuran;
(4) hormat dan santun;
(5)kasih sayang, kepedulian, dan
kerja sama;
(6) percaya diri, kreatif, kerja keras, danpantang menyerah;
(7) keadilan
dan kepemimpinan;
(8) baik dan rendah hati; serta
(9) toleransi, cinta damai dan
persatuan. (Ummi April 2011).
Pendidikan
karakter Suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada
warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan
tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan yang Maha
Esa, diri sendiri, hormat dan
santun dll yang pada akhirnya proses pendidikan
adalah menjadikan manusia
Indonesia seutuhnya. Pendidikan karakter merupakan
sebuah proses yang memerlukan
waktu untuk melihat tentang dampak dan
efektivitasnya. Oleh karena itu
para pendidik dan orang tua harus lebih bersabar,
lebih menyadari, dan lebih
memahami bahwa pendidikan karakter membutuhkan
waktu agar anak dapat
menginternalisasikan nilai-nilai positif yang didapatkan di
sekolah maupun di rumah menjadi
karakter kepribadiannya.
Tujuan pendidikan karakter ini
dapat dibedakan menjadi perubahan secara
personal dan perubahan secara
lembaga. Perubahan personal yaitu dengan
terbentuknya pribadi-pribadi yang
memiliki karakter kuat yang tidak mudah
terbawa arus negatf dan menjadi
trend setter positif yang akan menjadi teladan
bagi lingkungan sekitarnya. Dari
Individu-individu yang memiliki karakter kuat
pada akhirnya akan mebentuk
lingkungan yang memiliki budaya yang sehat yang
dilahirkan dari karakter positif
tersebut dan pada akhirnya akan membentuk
budaya yang sehat dalam setiap
lembaga pendidikan menjadi school culture dan
family culture.
B. Model Program Pembelajaran di
PAUD
Pembelajaran diartikan sebagai
upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh
pendidik yang dapat mendukung
peserta didik melakukan kegiatan belajar. Secara
umum pokok-pokok pembelajaran
pada anak usia dini meliputi :
a) Belajar, bermain, bernyanyi.
Dalam hal ini pembelajaran disusun dengan
mengembangkan esensi bermain
b) Belajar ketrampilan hidup.
Ketrampilan sosial merupakan kecakapan yang
dimiliki seeorang untuk berani
menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan
wajar tanpa merasa tertekan,
kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta
menemukan solusi untuk
pemecahannya (Depdiknas, 2002).
c) Belajar dari benda konkrit.
Pada usia dini anak dalam tahap sensori motorik
hingga pra operasional dan anak
belajar terbaik dari benda nyata
d) Belajar terpadu. Pembelajaran
tidak berdasar mata pelajaran melainkan terpadu
dengan berdasar tema tertentu
(tematik). Tema dasar dipilih dari kejadian keseharian
yang dialami, contoh : air,
pasir, binatang, langit, hujan dll. Tema dasar dapat
dikembangkan menjadi sub tema,
tema air dikembangkan menjadi air mancur, air
sungai, air minum, air laut, air
hujan.
Berkenaan dengan pembelajaran di
TK, sebuah model program pembelajaran
merupakan model pembejaran yang
isinya berbagai program kegiatan belajar yang
menggunakan berbagai macam metode
atau cara. Dalam kajian literatur ditemukan
ada 2 model besar dalam program
pembelajaran untuk anak-anak usia dini, yaitu :
1) Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative
Learning)
Model ini bertujuan agar pendidik
dapat menjadi fasilitator dalam kegiatan
pembelajaran dan dapat membantu
siswa menjadi pembelajar yang mandiri
( Halpern, 2005). Selain diyakini
dapat meningkatkan prestasi akademik siswa,
model ini juga merupakan
alternatif pengganti model tradisional yang memuat
pengajaran yang penuh dengan
berbagai instruksi dari pendidik (Siegel, 2005).
Selama menggunakan model
pembelajaran kooperatif, anak-anak secara aktif
terlibat dengan anak lain dan
materi belajar. Kesuksesan implementasi dari model
ini adalah aktivitas atau program
harus direncanakan, diorganisir, dan terstruktur
dengan tugas-tugas yang berkaitan
dengan tujuan dari pembelajaran (Halpern, 2005).
Adapun beberapa bentuk dari model
ini adalah
a) Diskusi berpasangan untuk
bertukar fikiran.
b) Mengumpulkan informasi yang
banyak dalam waktu singkat dengan membagi
kelompok-kelompok siswa.
c) Bermain peran (role
playing), anak-anak memerankan keterampilan sosial.
d) Bermain dengan mencari jejak (maze
atau maps).
2) Model pembelajaran kognitif
sosial (Cognitive-social learning model)
Tujuan dari model ini adalah
meningkatkan keterampilan sosial anak melalui
pembelajaran strategi kognitif
sosial yang efektif dengan memberikan kesempatan
pada anak-anak untuk
mempraktekkan perilaku sosial dalam berbagai macam
konteks sosial. Pada setiap sesi
belajar, ada tiga keterampilan sosial yang
diperkenalkan (dengan menggunakan
penjelasan, pendapat anak, dan ekspresi non
verbal yang ditampilkan ketika
keterampilan sosial muncul).
Model pembelajaran ini dibagi 5
sesi pertemuan yang berkelanjutan dengan
situasi yang dihadirkan berbeda.
Sesi pertama, dalam situasi ketika anak ingin
bermain dengan anak yang lain.
Sesi kedua, bagaimana mereka dapat
menyampaikan ide atau aktivitas
yang diinginkan. Sesi ketiga, anak-anak
dibelajarkan bagaimana sikap dan
cara yang positif sesama teman. Sesi keempat,
anak-anak dibelajarkan bagaimana
dia dapat berbagi mainan dengan anak yang lain.
Serta sesi kelima anak
dbelajarkan bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah
dalam berbagai situasi konflik.
Adapun tujuan pada sesi pertama adalah menolong
anak untuk berinisiatif dalam membentuk
interaksi sosial positif dengan teman
sebaya. Sementara sesi-sesi yang
lain adalah menjaga agar anak dapat
mempertahankan hubungan sosial yang positif dengan
teman sebaya.
C. Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)
Menurut
UNESCO Early childhood education is defined as the period from
birth to 8 years old. A time of
remarkable brain development, these years lay the
foundation for subsequent
learning.
Pendidikan anak usia dini didefinisikan periode
kehidupan dari lahir sampai usia
8 tahun, waktu yang menentukan dan dalam
mengembangkan otak anak,
tahun-tahun ini merupakan pondasi awal dalam tahapan
pembelajaran. National
Association for the education of young children (NAEYC)
menjelaskan bahwa tahapan ini
adalah usia yang sangat rentan dalam kehidupan
manusia yaitu usia dari lahir
sampai 8 tahun.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Early_childhood_education).
Ojala dalam Harkonen (1985, 14;
1993, 14) defines early childhood education
as an inter-active process in the
sphere of life at home, day care and preschool that is
purposefully aimed at an
all-encompassing personality development of between the
age from 0 to 6 years. Care,
education and teaching in early childhood education are
integrated into one functional
entity.
Pendidikan
anak usia dini didefinisikan Ojala
sebagai proses interaktif dalam
lingkungan baik di rumah, taman pengasuhan dan pra
sekolah yang bertujuan untuk
mengembangkan kepribadian antara usia 0 sampai 6
tahun. Sedangkan secara praktis
Ojala (1978: 308) menjelaskan bahwa pendidikan
anak usia dini sebagai ilmu
praktis dimana aktivitas kegiatan dilakukan sebelum usia
pra sekolah. Dalam hal ini pra
sekolah adalah bagian dari pendidikan anak usia dini.
Tujuan dari pendidikan anak usia
dini adalah untuk mengembangkan semua aspek
perkembangan anak, selain
pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan serta
pemenuhan kebutuhan dasar anak.
Tahapan ini harus dapat mempersiapkan anak
dengan lembut dan matang menuju
usia sekolah. Ojala menggarisbawahi bahwa
dalam pendidikan anak usia dini
harus berdasarkan pada teori dan teori harus melihat
di lapangan. Beberapa teori
perkembangan anak yang digunakan diantaranya Piaget,
Vygotsky, Froebel dan Ki Hajar
Dewantara. Froebel adalah salah satu tokoh
pendidikan anak usia dini yaitu
penemu pertama konsep taman kanak-kanak atau
kindergarten
(http://www.faqs.org/childhood/Fa-Gr/Froebel-Friedrich-Wilhelm-
August-1782-1852.html). Beberapa
pemikiran yang dibawa oleh Froebel adalah :
a) Kurikulum yang mendasari
proses bermain anak.
b) Permainan bersifat
instruktivistik.
c) Aspek yang dikembangkan dalam
proses pembelajaran adalah mind, matter dan
Immanent.
d) Konsep tentang unity,
diversity dan individuality.
e) Bermain adalah representasi
dari aktivitas pribadi yang berasal dari inner
necessity atau kebutuhan internal anak.
f) Pendidikan akan lebih efektif
jika adanya sinergitas atau perpaduan antara
sekolah dan rumah.
g) Tahun 1884 Froebel menulis
buku Mother's Songs, Games and Stories yang
bertujuan untuk membantu para ibu
untuk lebih efektif dalam mengasuh bayi atau
anak-anak agar tercipta
masyarakat yang lebih baik.
Lev Semenovich Vygotsky
(1896-1934) adalah salah satu tokoh pendidikan
anak usia dini pada pertengahan
abad yang membawa sosiocultural theory yang
mengemukakan bahwa "how
cultures -values, beliefs, customs and skills of social
group is transmitted to the next
generation."
(Berk 2003:26). budaya yang terdiri nilai,
kepercayaan, adat kebiasaan dan
keterampilan yang dimiliki oleh kelompok
masyarakat ditransmisikan kepada
generasi selanjutnya, dalam hal ini interaksi sosial
yang berupa dialog interaktif
terhadap anak-anak sangat diperlukan dalam
membangun pola berfikir dan
berperilaku. Dibawah ini beberapa pemikiran yang
dikemukakan oleh Lev Vygotsky :
a) Bahasa merupakan salah satu
media yang memiliki peran penting dalam
perkembangan mental anak. Konsep
yang dikenalkan adalah private speech or
self talk, kondisi ini terjadi ketika
anak-anak menghadapi berbagai tantangan,
biasanya anak-anak melakukan private
speech untuk mengelola rencana, arahan
atau mengevaluasi kelakuan mereka
sendiri (Badrova and Burns 1996:6).
Menurut teori ini setiap tahapan
proses mental menghasilkan proses mental yang
lain dalam perkembangan anak,
pertama diproses dalam diri anak kemudian
berbagi dengan orang lain
(intersubjektif) kemudian menginternalisasi dalam diri
anak dan digunakan secara mandiri
dalam berkomunikasi dengan orang lain.
b) Teori lain adalah Zone of
Proximal development (ZPD). ZPD adalah area antara
tahapan perkembangan anak dan
tahapan perkembangan anak yang terkondisikan.
Perilaku anak yang mandiri tanpa
intervensi dan perilaku anak yang di kondisikan
dengan berbagai macam permainan
dapat meningkatkan potensi yang dimiliki
anak secara optimal, karena
dengan mendukung dan memberikan dukungan main
membantu pertumbuhan anak.
c) Dari teori ZPD kemudian
lahirlah konsep scaffolding atau pijakan yang di
hadirkan oleh Donovan and Smolkin
( Verenikina ) yang mengemukakan bahwa
konsep scaffolding dipengaruhi
oleh teori vygotsky tentang ZPD. Scaffolding atau
pijakan bermain merupakan upaya
yang dilakukan oleh guru untuk dapat
mengkondisikan lingkungan dalam
mendorong perkembangan anak dan melihat
bakat yang dimiliki agar dapat
berkembang secara optimal. Konsep scaffolding
berdasarkan pada pernyataan
vygotsky bahwa kesadaran anak sangat dipengaruhi
oleh interaksi anak terhadap
dunia sekitar, perkembangan mereka tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sosial
dan budaya, oleh karena itu pendidik berusaha
untuk membuat lingkungan yang
dapat mendorong tumbuh kembang anak.
Tokoh anak usia dini yang lain
yaitu Laura E Berk, menyatakan konsep
PAUD sebagai ilmu pengetahuan,
praktis dan ilmu yang bersifat multidisiplin. Berk
mengemukakan bahwa dasar-dasar
yang mempengaruhi perkembangan anak terdiri
dari beberapa tahapan yaitu dasar
biologis, perkembangan masa prenatal dan
kelahiran.
Bayi
banyak belajar mengenai keterampilan motorik dan kemampuan
dalam mempersepsikan. Berk mengemukakan
bahwa ada beberapa aspek
perkembangan anak diantara yaitu
aspek fisik, kognitif dan bahasa, personality,
perkembangan sosial, dan
perkembangan moral. Ada beberapa unsur yang
mempengaruhi tumbuh kembang anak
yaitu keluarga, media, teman sebaya dan
sekolah.
Tillman (2004) mengembangkan
sebuah pembelajaran living values andan
educational Programme (LVEP).
Program ini mengajak murid untuk memikirkan
diri sendiri, orang lain dan
nilai-nilai dalam cara yang berkaitan. Program ini
memberikan pengalaman untuk
membangun rasa percaya diri dan emmancing
kreativitas, potensi dan bakat
setiap warga belajar.proses pembelajaran dilakukan
dengna berrefleksi, berimajinasi,
berdialog, berkomunikasi, berkreasi, membuat
tulisan, menyatakan diri lewat
seni, bermain dengan nilai yang diajarkan agar menjadi
karakter yag tertanam kuat dalam
kepribadian anak. Dalam proses ini akan
berkembang keterampilanpribadi,
sosial dan emosional.
Coles
(2003) mengembangkan konsep tentang kecerdasan moral yang dihidupkan
dengan imajinasi moral yaitu
kemampuan kita untuk tumbuh perlahan-lahan untuk
merenungkan mana yang benar dan
salah. Kecerdasan moral anak sangat ditentukan
oleh keluarga, kelas, suku
bangsa, kemasyaratakatan, media massa dan sekolah. Coles
banyak membahas tentang proses
penamnaman moral yaitu lewat bahasa, kerjasama,
da pada masa awal yaitu
pengenalan lewat bahasa nonverbal anak.
D. PAUD dan Pendidikan Karakter
Pencanangan
pendidikan karakter oleh Kemdikanas membawa harapan besar
tentang perubahan paradigma
pendidikan yang konstruktif dan substantive.
Konstruktif karena membentuk
manusia kerkarakter diperlukan manusia-manusia
yang kreatif dan kritis dan akan
menjadi trend setter bagi lingkungan. Proses
pembentukan manusia berkarakter
bukan suatu proses yang singkat tetapi
membutuhkan waktu, strategi,
finansial dan system terpadu yang dapat mensuport
pendidikan karakter menjadi
sebuah school culture dan family culture. Tahapan
pendidikan dan penanaman karater
setidaknya melalui empat tahapan : Knowing
(mengetahui) pada tahapan ini
anak diberi pengetahuan tentang baik dan buruknya
perilaku dan norma yang ada dalam
masyarakat. Tahapan kedua yitu reasoning yaitu
memberikan pemahaman tentang anak
yang menimbulkan kesadaran dan dapat
merasakan oleh karena itu pada
tahapan ketiga disebut dengan feeling, yaitu
merasakan dampak ketika anak
melakukan kabaikan baik di sekolah maupun dirumah.
Tahap yang terakhir yaitu acting
dimana anak mengambil tindakan sebagai wujud
dari pengetahuan, pemahaman dan
perasaan anak sehingga akan terinternalisasi dalam
kepribadian anak. Proses
internalisasi pendidikan karakter tidak dapat dilakukan jika
tidak melibatkan orang tua yang
memiliki kontribusi besar dalam tumbuh kembang
anak terutama pada tahapan anak
usia dini.
Pendidikan
anak usia dini merupakan salah satu program strategis yang
sedang banyak dikembangkan
Wortham menyatakan Assesment should involve the
child and Family (2005 :22). Artinya identifikasi
kebutuhan pendidikan anak usia dini
harus melibatkan orang tua dan
pengasuh sebagai sumber informasi karena anak-anak
banyak menghabiskan waktu
dirumah. Pra sekolah, Taman Kanak-kanak dan awal
pendidikan dasar lebih memahami
tentang kebutuhan dan kemampuan anak dalam
belajar tetapi hal itu akan sulit
dilakukan jika pada awal pembelajaran tidak
mendapatkan informasi dari orang
tua tentang kebiasaan anak, kesukaan anak dan
kemampuan anak yang mennjol.
Sehingga informasi yang didapatkan di rumah
dikembangkan di sekolah. Sekolah
ibu juga berfungsi sebagai sarana komunikasi
antara orang tua dan lembaga PAUD
untuk kemudian setelah anak mendapatkan
pendidikan karakter dapat
dikembangkan dan diimplementasikan dirumah.
Kesimpulan
Pendidikan karakter sejak dini
merupakan pondasi awal dalam mebmbentuk
karakter anak yang berujung pada
pembentukan schoo culture dan family culture.
Model-model pembelajaran yang
yang dapat menjadi alternative dalam
menanamkan pendidikan karakter
yaitu lewat model pembelajaran cooperative
dan model kognitif sosial.
Tahapan pendidikan karakter terdiri dari knowing,
reasoning, feeling dan acting.
Konsep Pendidikan anak usia dini banyak
dikembangkan oleh Froebel,
Vygotski, Berk dan Tillman yang banyak
menguraikan tentag nilai-nilai
positif dalam kehidupan.
(Seminar Nasional IKA UNY 2011)
DAFTAR PUSTKA
Berk, L. E. (2003). Child
Development. Sith Edition. USA: Illinois State
University.
Harahap, H.A.H & Dewantara,
S. B. (1980). Ki Hajar Dewantara ditangkap
dipenjarakan dan diasingkan. Jakarta : Gunung Agung.
Harris, R. et all. (1995).
Competency based Education and Training : Between
a Rock and a Whirlpool. Australia: MacMillan Education
Australia.Ltd.
Harkonen, U. ( tanpa tahun) Defining
Early Childhood Education Through
Systems Theory. Finland : University Of Joensuu
http://sokl.joensuu.fi/harkonen/verkot/Defining%20early-Article.
pdf. (Diakses pada tanggal 13
Maret 2010).
Hurlock, E. (1999) . Perkembangan
Anak. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lickona, T. (1992). Educating for
Character, How Our Schools Can Teach Respect
and Responsibility. New York:
Bantam Books.
Tillman Diane (2004). Living
Values Acivities for Children Ages 8-14.
Jakarta
Grasindo.