Kategori

Rabu, 26 Maret 2014

PENDIDIKAN KARAKTER 3

Model-­ Model Pembelajaran dalam Penanaman Karakter Sejak Dini Oleh Puji Yanti Fauziah 

Pendahuluan
“ Belajar ketika masih kecil ibarat Mengukir diatas batu, sedangkan belajar ketika sudah dewasa  seperti mengukir diatas air” istilah tersebut sangat popular dan memiliki makna yang dalam. Istilah tersebut juga mengandung makna yang sesuai dengan konsep pendidikan anak usia dini yang sangat mementingkan stimulasi sejak dini agar anak dapat belajar banyak dan mengembangkan potensi dan
Minat yang dimiliki anak Yang akan memberikan pengalaman dan kenangan yang begitu kuat terhadap anak, hal ini sangat berbeda ketika kita kita sudah dewasa apalagi jika kita menyinggung entang karakter dan watak yang sudah menjadi kesatuan dalam  kepribadian sehiangga untuk merubahnya akan jauh lebih sulit. Sehingga penanaman karakter sejak dini menjadi kunci utama dalam mebentuk karakter positif anak dan menjadi pondasi kepribadian yang akan menjadi orang yang memiliki karakter kuat. Bagaimana karakter dapat ditanamkan sejak dini dan model pembelajaran apa yang sesuai dengan tumbuh kembang anak, makalah ini akan membahas Tentang  model--model pembelajaran yanga akan menjadi alternative dalam mengimpelemntasikan pendidikan karakter sejak dini.

Pembahasan

A. Pendidikan Karakter
Kirl Patrick menjelaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat terlepas dari
moral absolut yaitu nilai-nilai positif yang berasal dari berbagai agama yang menjadi
sumber dalam bersikap dan berperilaku. Maka moral absolut yang berasal dari
agama ini menjadi sesuatu yang harus ditanamkan sejak dini karena berkaitan
dengan ajaran baik dan buruk dalam berperilaku.
Pendidikan karakter merupakan proses yang sangat panjang karena pendidikan
karakter tidak hanya melakukan transfer of value tetapi menanamkna kbiasaan yang
baik sampai menajdi karakter individu yang akan turut membnetuk identitas pribadi
sehingga membutuhkan proses karena dituntut tidak hanya mengetahui tetapi warga
belajar dapat mengetahu, merasakan dan pada kahirnya mau melakukan kebiasaan
positif sehingga menjadi karakter anak.
Lickona menjelaskan tentang tahapan dalam pendidikan moral setidaknya
ada empat tahapan yaitu knowing, reasoning, feeling dan acting. Sedangkan
Megawangi sebagai tokoh pendidikan karakter di Indonesia menyebutnya dengan 9
Pilar pendidikan karakter yaitu : 
(1) cinta Tuhan dan kebenaran; 
(2) tanggungjawab,kedisiplinan, dan kemandirian; 
(3) amanah dan kejujuran; 
(4) hormat dan santun; 
(5)kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama; 
(6) percaya diri, kreatif, kerja keras, danpantang menyerah; 
(7) keadilan dan kepemimpinan; 
(8) baik dan rendah hati; serta
(9) toleransi, cinta damai dan persatuan. (Ummi April 2011).

Pendidikan karakter Suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada
warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan yang Maha
Esa, diri sendiri, hormat dan santun dll yang pada akhirnya proses pendidikan
adalah menjadikan manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan karakter merupakan
sebuah proses yang memerlukan waktu untuk melihat tentang dampak dan
efektivitasnya. Oleh karena itu para pendidik dan orang tua harus lebih bersabar,
lebih menyadari, dan lebih memahami bahwa pendidikan karakter membutuhkan
waktu agar anak dapat menginternalisasikan nilai-nilai positif yang didapatkan di
sekolah maupun di rumah menjadi karakter kepribadiannya.
Tujuan pendidikan karakter ini dapat dibedakan menjadi perubahan secara
personal dan perubahan secara lembaga. Perubahan personal yaitu dengan
terbentuknya pribadi-pribadi yang memiliki karakter kuat yang tidak mudah
terbawa arus negatf dan menjadi trend setter positif yang akan menjadi teladan
bagi lingkungan sekitarnya. Dari Individu-individu yang memiliki karakter kuat
pada akhirnya akan mebentuk lingkungan yang memiliki budaya yang sehat yang
dilahirkan dari karakter positif tersebut dan pada akhirnya akan membentuk
budaya yang sehat dalam setiap lembaga pendidikan menjadi school culture dan
family culture.

B. Model Program Pembelajaran di PAUD
Pembelajaran diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh
pendidik yang dapat mendukung peserta didik melakukan kegiatan belajar. Secara
umum pokok-pokok pembelajaran pada anak usia dini meliputi :

a) Belajar, bermain, bernyanyi. Dalam hal ini pembelajaran disusun dengan
mengembangkan esensi bermain

b) Belajar ketrampilan hidup. Ketrampilan sosial merupakan kecakapan yang
dimiliki seeorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan
wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta
menemukan solusi untuk pemecahannya (Depdiknas, 2002).

c) Belajar dari benda konkrit. Pada usia dini anak dalam tahap sensori motorik
hingga pra operasional dan anak belajar terbaik dari benda nyata

d) Belajar terpadu. Pembelajaran tidak berdasar mata pelajaran melainkan terpadu
dengan berdasar tema tertentu (tematik). Tema dasar dipilih dari kejadian keseharian
yang dialami, contoh : air, pasir, binatang, langit, hujan dll. Tema dasar dapat
dikembangkan menjadi sub tema, tema air dikembangkan menjadi air mancur, air
sungai, air minum, air laut, air hujan.
Berkenaan dengan pembelajaran di TK, sebuah model program pembelajaran
merupakan model pembejaran yang isinya berbagai program kegiatan belajar yang
menggunakan berbagai macam metode atau cara. Dalam kajian literatur ditemukan
ada 2 model besar dalam program pembelajaran untuk anak-anak usia dini, yaitu :

1) Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Model ini bertujuan agar pendidik dapat menjadi fasilitator dalam kegiatan
pembelajaran dan dapat membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri
( Halpern, 2005). Selain diyakini dapat meningkatkan prestasi akademik siswa,
model ini juga merupakan alternatif pengganti model tradisional yang memuat
pengajaran yang penuh dengan berbagai instruksi dari pendidik (Siegel, 2005).
Selama menggunakan model pembelajaran kooperatif, anak-anak secara aktif
terlibat dengan anak lain dan materi belajar. Kesuksesan implementasi dari model
ini adalah aktivitas atau program harus direncanakan, diorganisir, dan terstruktur
dengan tugas-tugas yang berkaitan dengan tujuan dari pembelajaran (Halpern, 2005).
Adapun beberapa bentuk dari model ini adalah

a) Diskusi berpasangan untuk bertukar fikiran.
b) Mengumpulkan informasi yang banyak dalam waktu singkat dengan membagi
kelompok-kelompok siswa.
c) Bermain peran (role playing), anak-anak memerankan keterampilan sosial.
d) Bermain dengan mencari jejak (maze atau maps).

2) Model pembelajaran kognitif sosial (Cognitive-social learning model)
Tujuan dari model ini adalah meningkatkan keterampilan sosial anak melalui
pembelajaran strategi kognitif sosial yang efektif dengan memberikan kesempatan
pada anak-anak untuk mempraktekkan perilaku sosial dalam berbagai macam
konteks sosial. Pada setiap sesi belajar, ada tiga keterampilan sosial yang
diperkenalkan (dengan menggunakan penjelasan, pendapat anak, dan ekspresi non
verbal yang ditampilkan ketika keterampilan sosial muncul).
Model pembelajaran ini dibagi 5 sesi pertemuan yang berkelanjutan dengan
situasi yang dihadirkan berbeda. Sesi pertama, dalam situasi ketika anak ingin
bermain dengan anak yang lain. Sesi kedua, bagaimana mereka dapat
menyampaikan ide atau aktivitas yang diinginkan. Sesi ketiga, anak-anak
dibelajarkan bagaimana sikap dan cara yang positif sesama teman. Sesi keempat,
anak-anak dibelajarkan bagaimana dia dapat berbagi mainan dengan anak yang lain.
Serta sesi kelima anak dbelajarkan bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah
dalam berbagai situasi konflik. Adapun tujuan pada sesi pertama adalah menolong
anak untuk berinisiatif dalam membentuk interaksi sosial positif dengan teman
sebaya. Sementara sesi-sesi yang lain adalah menjaga agar anak dapat
mempertahankan hubungan sosial yang positif dengan teman sebaya.

C. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Menurut UNESCO Early childhood education is defined as the period from
birth to 8 years old. A time of remarkable brain development, these years lay the
foundation for subsequent learning. Pendidikan anak usia dini didefinisikan periode
kehidupan dari lahir sampai usia 8 tahun, waktu yang menentukan dan dalam
mengembangkan otak anak, tahun-tahun ini merupakan pondasi awal dalam tahapan
pembelajaran. National Association for the education of young children (NAEYC)
menjelaskan bahwa tahapan ini adalah usia yang sangat rentan dalam kehidupan
manusia yaitu usia dari lahir sampai 8 tahun.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Early_childhood_education).
Ojala dalam Harkonen (1985, 14; 1993, 14) defines early childhood education
as an inter-active process in the sphere of life at home, day care and preschool that is
purposefully aimed at an all-encompassing personality development of between the
age from 0 to 6 years. Care, education and teaching in early childhood education are
integrated into one functional entity.
Pendidikan anak usia dini didefinisikan Ojala
sebagai proses interaktif dalam lingkungan baik di rumah, taman pengasuhan dan pra
sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian antara usia 0 sampai 6
tahun. Sedangkan secara praktis Ojala (1978: 308) menjelaskan bahwa pendidikan
anak usia dini sebagai ilmu praktis dimana aktivitas kegiatan dilakukan sebelum usia
pra sekolah. Dalam hal ini pra sekolah adalah bagian dari pendidikan anak usia dini.
Tujuan dari pendidikan anak usia dini adalah untuk mengembangkan semua aspek
perkembangan anak, selain pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan serta
pemenuhan kebutuhan dasar anak. Tahapan ini harus dapat mempersiapkan anak
dengan lembut dan matang menuju usia sekolah. Ojala menggarisbawahi bahwa
dalam pendidikan anak usia dini harus berdasarkan pada teori dan teori harus melihat
di lapangan. Beberapa teori perkembangan anak yang digunakan diantaranya Piaget,
Vygotsky, Froebel dan Ki Hajar Dewantara. Froebel adalah salah satu tokoh
pendidikan anak usia dini yaitu penemu pertama konsep taman kanak-kanak atau
kindergarten (http://www.faqs.org/childhood/Fa-Gr/Froebel-Friedrich-Wilhelm-
August-1782-1852.html). Beberapa pemikiran yang dibawa oleh Froebel adalah :
a) Kurikulum yang mendasari proses bermain anak.
b) Permainan bersifat instruktivistik.
c) Aspek yang dikembangkan dalam proses pembelajaran adalah mind, matter dan
Immanent.
d) Konsep tentang unity, diversity dan individuality.
e) Bermain adalah representasi dari aktivitas pribadi yang berasal dari inner
necessity atau kebutuhan internal anak.
f) Pendidikan akan lebih efektif jika adanya sinergitas atau perpaduan antara
sekolah dan rumah.
g) Tahun 1884 Froebel menulis buku Mother's Songs, Games and Stories yang
bertujuan untuk membantu para ibu untuk lebih efektif dalam mengasuh bayi atau
anak-anak agar tercipta masyarakat yang lebih baik.
Lev Semenovich Vygotsky (1896-1934) adalah salah satu tokoh pendidikan
anak usia dini pada pertengahan abad yang membawa sosiocultural theory yang
mengemukakan bahwa "how cultures -values, beliefs, customs and skills of social
group is transmitted to the next generation." (Berk 2003:26). budaya yang terdiri nilai,
kepercayaan, adat kebiasaan dan keterampilan yang dimiliki oleh kelompok
masyarakat ditransmisikan kepada generasi selanjutnya, dalam hal ini interaksi sosial
yang berupa dialog interaktif terhadap anak-anak sangat diperlukan dalam
membangun pola berfikir dan berperilaku. Dibawah ini beberapa pemikiran yang
dikemukakan oleh Lev Vygotsky :

a) Bahasa merupakan salah satu media yang memiliki peran penting dalam
perkembangan mental anak. Konsep yang dikenalkan adalah private speech or
self talk, kondisi ini terjadi ketika anak-anak menghadapi berbagai tantangan,
biasanya anak-anak melakukan private speech untuk mengelola rencana, arahan
atau mengevaluasi kelakuan mereka sendiri (Badrova and Burns 1996:6).
Menurut teori ini setiap tahapan proses mental menghasilkan proses mental yang
lain dalam perkembangan anak, pertama diproses dalam diri anak kemudian
berbagi dengan orang lain (intersubjektif) kemudian menginternalisasi dalam diri
anak dan digunakan secara mandiri dalam berkomunikasi dengan orang lain.

b) Teori lain adalah Zone of Proximal development (ZPD). ZPD adalah area antara
tahapan perkembangan anak dan tahapan perkembangan anak yang terkondisikan.
Perilaku anak yang mandiri tanpa intervensi dan perilaku anak yang di kondisikan
dengan berbagai macam permainan dapat meningkatkan potensi yang dimiliki
anak secara optimal, karena dengan mendukung dan memberikan dukungan main
membantu pertumbuhan anak.

c) Dari teori ZPD kemudian lahirlah konsep scaffolding atau pijakan yang di
hadirkan oleh Donovan and Smolkin ( Verenikina ) yang mengemukakan bahwa
konsep scaffolding dipengaruhi oleh teori vygotsky tentang ZPD. Scaffolding atau
pijakan bermain merupakan upaya yang dilakukan oleh guru untuk dapat
mengkondisikan lingkungan dalam mendorong perkembangan anak dan melihat
bakat yang dimiliki agar dapat berkembang secara optimal. Konsep scaffolding
berdasarkan pada pernyataan vygotsky bahwa kesadaran anak sangat dipengaruhi
oleh interaksi anak terhadap dunia sekitar, perkembangan mereka tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya, oleh karena itu pendidik berusaha
untuk membuat lingkungan yang dapat mendorong tumbuh kembang anak.
Tokoh anak usia dini yang lain yaitu Laura E Berk, menyatakan konsep
PAUD sebagai ilmu pengetahuan, praktis dan ilmu yang bersifat multidisiplin. Berk
mengemukakan bahwa dasar-dasar yang mempengaruhi perkembangan anak terdiri
dari beberapa tahapan yaitu dasar biologis, perkembangan masa prenatal dan
kelahiran.
Bayi banyak belajar mengenai keterampilan motorik dan kemampuan
dalam mempersepsikan. Berk mengemukakan bahwa ada beberapa aspek
perkembangan anak diantara yaitu aspek fisik, kognitif dan bahasa, personality,
perkembangan sosial, dan perkembangan moral. Ada beberapa unsur yang
mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu keluarga, media, teman sebaya dan
sekolah.
Tillman (2004) mengembangkan sebuah pembelajaran living values andan
educational Programme (LVEP). Program ini mengajak murid untuk memikirkan
diri sendiri, orang lain dan nilai-nilai dalam cara yang berkaitan. Program ini
memberikan pengalaman untuk membangun rasa percaya diri dan emmancing
kreativitas, potensi dan bakat setiap warga belajar.proses pembelajaran dilakukan
dengna berrefleksi, berimajinasi, berdialog, berkomunikasi, berkreasi, membuat
tulisan, menyatakan diri lewat seni, bermain dengan nilai yang diajarkan agar menjadi
karakter yag tertanam kuat dalam kepribadian anak. Dalam proses ini akan
berkembang keterampilanpribadi, sosial dan emosional.
Coles (2003) mengembangkan konsep tentang kecerdasan moral yang dihidupkan
dengan imajinasi moral yaitu kemampuan kita untuk tumbuh perlahan-lahan untuk
merenungkan mana yang benar dan salah. Kecerdasan moral anak sangat ditentukan
oleh keluarga, kelas, suku bangsa, kemasyaratakatan, media massa dan sekolah. Coles
banyak membahas tentang proses penamnaman moral yaitu lewat bahasa, kerjasama,
da pada masa awal yaitu pengenalan lewat bahasa nonverbal anak.

D. PAUD dan Pendidikan Karakter
Pencanangan pendidikan karakter oleh Kemdikanas membawa harapan besar
tentang perubahan paradigma pendidikan yang konstruktif dan substantive.
Konstruktif karena membentuk manusia kerkarakter diperlukan manusia-manusia
yang kreatif dan kritis dan akan menjadi trend setter bagi lingkungan. Proses
pembentukan manusia berkarakter bukan suatu proses yang singkat tetapi
membutuhkan waktu, strategi, finansial dan system terpadu yang dapat mensuport
pendidikan karakter menjadi sebuah school culture dan family culture. Tahapan
pendidikan dan penanaman karater setidaknya melalui empat tahapan : Knowing
(mengetahui) pada tahapan ini anak diberi pengetahuan tentang baik dan buruknya
perilaku dan norma yang ada dalam masyarakat. Tahapan kedua yitu reasoning yaitu
memberikan pemahaman tentang anak yang menimbulkan kesadaran dan dapat
merasakan oleh karena itu pada tahapan ketiga disebut dengan feeling, yaitu
merasakan dampak ketika anak melakukan kabaikan baik di sekolah maupun dirumah.
Tahap yang terakhir yaitu acting dimana anak mengambil tindakan sebagai wujud
dari pengetahuan, pemahaman dan perasaan anak sehingga akan terinternalisasi dalam
kepribadian anak. Proses internalisasi pendidikan karakter tidak dapat dilakukan jika
tidak melibatkan orang tua yang memiliki kontribusi besar dalam tumbuh kembang
anak terutama pada tahapan anak usia dini.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu program strategis yang
sedang banyak dikembangkan Wortham menyatakan Assesment should involve the
child and Family (2005 :22). Artinya identifikasi kebutuhan pendidikan anak usia dini
harus melibatkan orang tua dan pengasuh sebagai sumber informasi karena anak-anak
banyak menghabiskan waktu dirumah. Pra sekolah, Taman Kanak-kanak dan awal
pendidikan dasar lebih memahami tentang kebutuhan dan kemampuan anak dalam
belajar tetapi hal itu akan sulit dilakukan jika pada awal pembelajaran tidak
mendapatkan informasi dari orang tua tentang kebiasaan anak, kesukaan anak dan
kemampuan anak yang mennjol. Sehingga informasi yang didapatkan di rumah
dikembangkan di sekolah. Sekolah ibu juga berfungsi sebagai sarana komunikasi
antara orang tua dan lembaga PAUD untuk kemudian setelah anak mendapatkan
pendidikan karakter dapat dikembangkan dan diimplementasikan dirumah.

Kesimpulan
Pendidikan karakter sejak dini merupakan pondasi awal dalam mebmbentuk
karakter anak yang berujung pada pembentukan schoo culture dan family culture.
Model-model pembelajaran yang yang dapat menjadi alternative dalam
menanamkan pendidikan karakter yaitu lewat model pembelajaran cooperative
dan model kognitif sosial. Tahapan pendidikan karakter terdiri dari knowing,
reasoning, feeling dan acting. Konsep Pendidikan anak usia dini banyak
dikembangkan oleh Froebel, Vygotski, Berk dan Tillman yang banyak
menguraikan tentag nilai-nilai positif dalam kehidupan.

(Seminar Nasional IKA UNY 2011)


DAFTAR PUSTKA
Berk, L. E. (2003). Child Development. Sith Edition. USA: Illinois State
University.
Harahap, H.A.H & Dewantara, S. B. (1980). Ki Hajar Dewantara ditangkap
dipenjarakan dan diasingkan. Jakarta : Gunung Agung.
Harris, R. et all. (1995). Competency based Education and Training : Between
a Rock and a Whirlpool. Australia: MacMillan Education
Australia.Ltd.
Harkonen, U. ( tanpa tahun) Defining Early Childhood Education Through
Systems Theory. Finland : University Of Joensuu
http://sokl.joensuu.fi/harkonen/verkot/Defining%20early-Article.
pdf. (Diakses pada tanggal 13 Maret 2010).
Hurlock, E. (1999) . Perkembangan Anak. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lickona, T. (1992). Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect
and Responsibility. New York: Bantam Books.
Tillman Diane (2004). Living Values Acivities for Children Ages 8-14.

Jakarta Grasindo.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar