PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK SEJAK DINI
“ Saya berharap selalu memiliki kekuatan dan kebajikan
yang cukup untuk mempertahankan apa yang saya anggap paling berharga, yaitu
karakter dari seorang yang jujur”. (George Washington)
Pendahuluan:
Karakter
adalah sebuah kata yang tidak ada artinya jika tidak dihubungkan dengan
manusia. Gordon Allport mendefinisikan karakter manusia sebagai kumpulan atau
kristalisasi dari kebiasan-kebiasaan seorang individu. Sedangkan
Chaplin mendefinisikannya sebagai kualitas kepribadian yang berulang secara
tetap dalam seorang individu. Dari sudut proses pembentukkannya ada ahli yang
mengatakan bahwa karakter manusia itu adalah turunan (hereditas), sebagian lain
lagi mengatakan lingkungan yang membentuk karakter kepribadian seseorang. Kita
tidak mempersalahkan ataupun membenarkan salah satu pandangan di atas. Yang
pasti kedua faktor di atas sangat berperan di dalam pembentukan karakter
kepribadian seorang manusia. Tapi yang paling penting untuk diperhatikan adalah
bahwa kebiasaan manusia setiap hari itulah yang akan membentuk karakter seorang
manusia.
Tulisan
berikut ini akan menyajikan beberapa aspek kepribadian manusia yang perlu
dibiasakan sejak dini pada anak atau pelajar sehingga dapat membentuk satu
kepribadian yang tangguh dan mandiri di waktu yang akan datang.
1.
Responsility
Tanggungjawab dalam bahasa Indonesia terdiri dari dua
kata penting yakni tanggung dan jawab. Tanggung berarti bersedia
menerima apa yang ditugaskan kepadanya, bersedia memikul isi tugas yang
dipercayakan kepadanya. Jawab dalam pengertian di sini berarti bersedia
belajar dan memberikan penjelasan sesuai kompetensi pekerjaan yang dipercayakan
kepadanya.
Aspek
psikologis dari Tanggungjawab ini adalah keberanian menerima tugas,
komitmen menjalankan, ketahanan mental selama menjalankan, dan keterbukaan
untuk menerima konsekuensi positip dan negatip. Maka seorang yang disebut
punya karakter tanggungjawab berarti orang itu memiliki kesediaan untuk
menerima, memiliki komitmen untuk menjalankan tugas tersebut sampai tuntas dan
mengevaluasi serta menerima hasilnya baik positip maupun negatip.
Tanggungjawab
seorang anak (pelajar) adalah menerima tugas belajar. Sekali menerima tugas ini
ia harus komit untuk menjalankannya hingga tuntas pada akhir tahun
pelajarannya. Seorang pelajar harus membiasakan diri untuk selalu belajar. Ia
bukan balajar untuk lulus ujian, atau supaya menyenangkan orangtua dan guru,
tetapi ia harus belajar untuk hidup. Ia harus membangun suatu kebiasan
bertanggungjawab dengan menjalankan setiap tugas yang diberikan kepadanya
hingga tuntas dan dievaluasi untuk melihat hasilnya. Tanggungjawab adalah suatu
aspek kepribadian yang perlu dibangun sejak dini, mulai dari hal-hal yang
sederhana yang akan menjadi dasar untuk hal yang lebih besar.
2.
Self-Respect
Penghargaan
terhadap diri sendiri mungkin dilihat banyak orang sebagai hal yang lucu.
Karena penghargaan biasanya lebih banyak berhubungan dengan relasi dengan orang
lain yaitu menghargai orang lain. Bahkan ada yang beranggapan ekstrim bahwa
penghargaan terhadap diri adalah bentuk pemujaan diri. Terlepas dari anggapan
di atas saya mau mengatakan bahwa penghargaan terhadap diri sendiri adalah
dasar untuk menghargai orang lain. Bagaimana anda bisa menghargai orang lain
kalau anda sendiri tidak menghargai diri sendiri? Penghargaan terhadap diri
sendiri berarti berpikir positip, bersikap positip dan menerima diri
sendiri sebagaimana adanya. Dengan berpikir positip terhadap diri, orang dapat
menemukan potensi dan bakat yang terpendam di dalamnya. Lalu dengan menerima
hal-hal positip dan negatip yang ia miliki, maka ia merasa aman dengan dengan
dirinya sendiri, dan akhirnya ia dapat tampil dengan penuh percaya diri.
Penghargaan terhadap diri sendiri perlu dibangun sejak usia sekolah sehingga
dapat menjadi dasar untuk kemajuan tugas-tugas yang akan dipercayakan
kepadanya.
3. Doing The
Right Thing
Melakukan
hal-hal baik merupakan aspek kepribadian yang perlu dibiasakan sejak
dini. Kebiasaan baik ini dibentuk dengan latihan. Dan latihan melakukan hal-hal
baik ini bisa terjadi di sekolah ataupun di rumah. Latihan di rumah akan
didampingi orangtua, sedangkan di sekolah akan didampingi oleh guru. Orangtua
dan guru hadir sebagai pendamping sekaligus motivator sehingga anak akan terus
bersemangat melakukan hal-hal baik itu. Latihan yang dilakukan berulang kali
akan sekaligus membentuk kebiasaan pada anak, dan selanjutnya kebiasaan ini
akan menjadi bagian dari kepribadian anak itu sendiri. Seorang pelajar
perlu dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang dianggap baik oleh masyarakat
sekitar, sehingga dengan demikian kebiasaan ini akan berputar secara
otomatis dalam hidunya setiap hari.
4.
Respecting Others
Setiap orang
tua dan guru di sekolah ingin supaya anak-anaknya memiliki kebiasaan menghargai
orang lain. Sikap ini bukan hanya harapan orang tua dan guru tetapi adalah
harapan setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika masih tinggal
bersama orangtuanya di rumah, anak menjadi raja kecil. Semua permintaannya
selalu dipenuhi, semua keinginannya selalu dikabulkan. Tetapi setelah ia
masuk sekolah, ia akan bertemu dengan tantangan baru, yaitu teman-temannya yang
juga memiliki keinginan dan kemauan sendiri. Di sini anak perlu didampingi
untuk mengembangkan sisi penghargaan terhadap temannya yang lain. Ia perlu juga
menahan diri, memberi kesempatan kepada teman lain, menerima pendapat dan
keinginan teman lain, serta berani untuk menerima kekalahan. Sikap-sikap lain
yang perlu dikembangkan untuk mendukung aspek ini adalah kesabaran, menerima
orang lain, mendengarkan orang lain, dan mengakui kelebihan orang lain.
5.
Preventing Conflicts & Violence
Konflik dan
kekerasan sering identik dengan kaum muda. Pelajar yang adalah bagian dari
kaum muda pun sering kena stikma ini. Tentu bukan tanpa alasan kaum muda
mendapat stikma ini. Kenyataan membuktikan bahwa banyak terjadi tawuran antar
pelajar, tawuran antara mahasiswa, dan tawuran pemuda antar desa. Kenyataan ini
tentu memberi kita satu indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan
karakter orang-orang muda kita ini. Apa itu? Mereka tidak dibekali dengan
nilai-nilai kehidupan bersama yang patut diterima dan dihormati bersama. Selain
itu oleh tekanan ekonomi dan tantangan hidup metropolitan yang begitu tinggi,
menyebabkan mereka kehilangan pegangan hidup dan akhirnya sulit mengendalikan
diri menghadapi konflik-konflik tersebut. Upaya membuat preventing
terhadap konflik dan kekerasan antar pelajar adalah dengan memberikan beban
pekerjaan rumah yang banyak sehingga ia sibuk dan hanya berpikir tentang tugas
belajarnya, atau juga dengan memberikan kursus-kursus ketrampilan lain sesuai
dengan bakat dan talenta yang dimilikinya. Selain itu anak juga perlu pandai
memilih kegiatan yang tidak cenderung pada konflik dan kekerasan.
6. Saying No
to Alcohol and Other Drugs
Mengatakan
No kepada Alkohol dan segala jenis obat bius adalah harapan semua orangtua kepada
anaknya. Bahkan bukan hanya para orangtua, tapi sekolah, dan masyarakat pun
sangat setuju dengan komitmen di atas. Banyak orangtua selalu cemas dan dengan
ketat memantau keberadaan anaknya supaya tidak sampai terjebak ke dalam
kebiasan buruk di atas. Gampang mengatakan No kalau kita belum pernah mengalami
nikmatnya minuman keras dan obat bius. Tapi adalah sulit kalau kita sudah
terjebak dalam kebiasaan minumun keras dan obat tersebut. Banyak orangtua
sampai menjual semua harta bendanya untuk memulihkan anaknya yang ketagihan
narkoba. Bukan itu saja, tapi kondisi fisik dan psikologis anak itu juga sangat
memprihatinkan. Maka para anak perlu diperingatkan untuk tidak mencoba-coba
minum atau mengkonsumsi narkoba. Mengapa perlu say No to Alcohol dan other Drugs?
Karena untuk menghindari diri dari jebakan kebiasaan buruk yang akan membawa
seorang siswa kepada kehancuran kepribadian.
7. Speaking
of Sex
Seks adalah bahan yang paling menarik untuk
diperbincankan di antara para remaja mulai dari SD hingga tingkat SMA. Mungkin
dari rating pembicaraan antar remaja, topik yang satu ini yang paling banyak
dan menarik diperbincangkan. Pendidikan seks perlu dan penting diperhatikan di
sekolah-sekolah, karena Sex memiliki dimensi yang sangat luas. Adanya banyak
aspek dan kepentingan yang terkontaminasi di dalam pembicaraan sex itu sendiri.
Ada yang memandangnya dari segi bisnis, ada yang melihatnya dari segi pemuasan
kebutuhan, ada yang melihatnya dari segi etika-moral. Di sini perlu sekali ada
pendidikan sex di sekolah supaya sex itu sendiri ditempatkan tepat pada
tempatnya sebagai ciptaan Tuhan, dan dibahas sesuai dengan tujuan
penciptaannya. Revolusi sex dan segala dimensinya telah menyesatkan kaum remaja
dan sekaligus menjerumuskan mereka kedalam lingkaran setan pemuasan nafsu
belaka. Maka sejak awal anak perlu dibuka matanya untuk melihat sex bukan dari
segi bisnis dan pemuasan hasrat sexual tapi terlebh sebagai ciptaan Tuhan
yang mulia dan dipergunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Penutup:
Karakter
adalah wajah kepribadian seorang manusia. Mereka terdiri dari
kebiasaan-kebiasaan yang berulang secara tetap pada setiap waktu dan tempat.
Kebiasaan-kebiasaan ini tidak terbentuk satu kali jadi. Juga bukan bawaan sejak
lahir, tatapi merupakan suatu kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu. Ia
harus dilatih berulang kali hingga nanti tergerak otomatis. Para ahli
mengatakan, ‘pertama-tama kau membentuk kebiasaan, setelah itu kebiasaanmu
yang akan membentuk engkau.’ Mari kita membentuk kebiasaan positip
anak-anak kita sejak dini, sehingga kemudian kebiasaan itu akan otomatis
membentuk anak-anak kita.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar