BHAKTI PERTIWI INSTITUTE
( BPI )
Pendidikan,Psikologi,Pelatihan
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Alamat : Jl. Giook
Blok P-15 Bukit Karang Tuban
MODEL PENDIDIKAN HOLISTIK BERBASIS
KARAKTER (PHBK)
Indonesia Heritage Foundation telah
mengembangkan dan mempraktekkan sebuah model Pendidikan Holistik Berbasis
Karakter untuk TK dan SD. Model pendidikan ini menerapkan teori-teori sosial,
emosi, kognitif, fisik, moral, dan spiritual. Model ini diharapkan dapat
memampukan setiap anak untuk berkembang sebagai individu yang terintegrasi
dengan baik (secara spiritual, intelektual, sosial, fisik, dan emosi, yang
berpikir kreatif secara mandiri, dan bertanggung jawab).
Pendidikan
Holistik Berbasis Karakter bertujuan untuk membangun seluruh dimensi manusia
dengan pendekatan pada pengalaman belajar yang menyenangkan dan inspiratif
untuk anak-anak. Guru-guru akan diperlengkapi dengan pengetahuan teoritis dan
praktis mengenai “Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan”, “Pembelajaran yang
Ramah Otak”, “Kecerdasan Emosi”, “Komunikasi Efektif”, “Penerapan Pendidikan 9
Pilar Karakter secara Eksplisit (mengetahui, merasakan, dan melakukan)”,
“Kecerdasan Majemuk”, “Pembelajaran Kooperatif”, “Pembelajaran Kontekstual”,
“Pembelajaran Berbasis Pertanyaan”, “Manajemen Kelas Efektif”, “Pembelajaran
Siswa Aktif”, “ Whole Language ”, “Aplikasi Modul Pendidikan Holistik Berbasis
Karakter”, “Aplikasi Modul Karakter di ruang kelas”, “Teknik Bercerita”,
“Kreativitas dan Origami”, dan lain-lain.
Model
Pendidikan Holistik Berbasis Karakter adalah model pendidikan yang tidak hanya
memberikan rasa aman untuk anak, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang
nyaman dan menstimulasi suasana belajar untuk anak.
1. Guru harus diberikan training
terlebih dahulu sebelum menerapkan model pembelajaran ini di sekolah. Tujuan
dari training ini adalah memotivasi dan membentuk guru agar dapat menjadi guru
yang ramah dan penyayang yang dapat memotivasi anak serta dengan tulus dapat
memberikan cintanya secara tulus pada anak. Dalam training, guru akan
memperoleh berbagai pengetahuan terbaru yang aplikatif dapat diterapkan
langsung, seperti Pendidikan yang Patut Menurut Perkembangan Anak (
Developmentally Appropriate Practices ), Pembelajaran yang Sesuai dengan Kerja
Otak ( Brain-based Learning), Metode Belajar Aktif ( Student Active Learning
& Inquiry-based Learning ), Komunikasi Efektif, Manajemen Kelas, Teknik
Bercerita, dll.
Kemampuan guru ini akan membantu
anak di sekolah dalam hal:
a. Menumbuhkan rasa percaya diri anak
b. Anak merasa aman dan nyaman
c. Mengembangkan perasaan anak bahwa
dirinya memiliki kemampuan dan dihargai sebagai seorang individu yang unik
Hubungan emosional yang kuat antara guru dan anak akan terjalin
dan menjadi modal utama untuk membantu anak-anak di kelas. Terutama bagi
anak-anak yang mengalami trauma, karena dengan demikian akan terbentuk
kepercayaan, juga perasaan aman dan nyaman di kelas.
2. Model ini memberikan
kesempatan yang luas pada anak untuk mengembangkan seluruh dimensi holistik
yang dimilikinya sebagai dari seorang manusia. Tidak hanya pengembangan aspek
kognitif (otak kiri atau hapalan), tapi juga pengembangan aspek emosi, sosial,
kreativitas, dan spiritualitas (otak kanan) yang keseluruhannya tercakup di dalam
modul pembelajaran. Dengan metode ini, anak-anak yang mengalami trauma memiliki
kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya baik secara verbal, melalui gambar,
permainan, tulisan, ataupun bentuk lainnya sehingga dapat mengurangi rasa
takut dan tidak nyaman.
3. Model pembelajaran ini bertujuan
untuk membentuk karakter positif anak melalui pengembangan 9 Pilar Karakter
secara intensif. Yaitu meliputi aspek mengetahui, mencintai dan melakukan
kebaikan ( knowing, loving, and acting the good ). Metode ini akan membentuk
suasana kelas yang bersahabat, kebersamaan, saling mendukung dan menghargai
dengan sesama temannya.
4. Model ini juga menyediakan alat
bantu mengajar yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dengan demikian guru
dapat memberikan pengalaman belajar yang konkrit, kontekstual sehingga
merangsang anak belajar secara aktif, menyenangkan dan tanpa beban. Pada
umumnya di kelas yang menggunakan metode lama (klasikal), anak akhirnya merasa
terbebani karena penggunaan alat bantu mengajar yang tidak sesuai dengan
perkembangan anak, metode mengajar yang tidak sesuai dengan kerja otak, dan
cara komunikasi guru yang tidak tepat. Karena itulah Model Pembelajaran
Holistik Berbasis Karakter ini tepat bagi anak-anak yang mengalami trauma.
5. Anak akan memiliki perasaan bahwa
dirinya memiliki kemampuan karena dalam metode pembelajaran ini anak diberikan
banyak kesempatan untuk melakukan kegiatan belajar nyata secara langsung (
hands-on activities, seperti misalnya kegiatan matematika, sains, memasak,
berkebun). Perasaan bahwa dirinya mampu akan berkembang pada tumbuhnya rasa
percaya diri. Selain itu akan tumbuh pula kerja sama diantara anak. Karakter
ini akan membantu anak untuk mengatasi rasa traumanya dan menumbuhkan rasa
percaya diri bahwa di masa depannya nanti ia akan berhasil.
I.
REFLEKSI HARIAN ATAU APERSEPSI.
Setiap pagi anak-anak diminta untuk
berefleksi selama 20 menit dalam pengajaran pilar pada hari itu. Waktu refleksi
ini memberikan anak-anak kesempatan untuk mengekspresikan secara verbal
pengetahuan mereka, kecintaan (perasaan), dan bagaimana mereka sudah menerapkan
pilar (prinsip dari Dr. Thomas Lickona: mengetahui yang baik, merasakan yang
baik, dan melakukan yang baik). Mengajarkan pilar-pilar selama tahun-tahun
sekolah, dimana setiap pilar dirotasi setiap dua atau tiga minggu sekali.
Sembilan Pilar Karakter adalah:
1. Cinta Tuhan dan Segenap
Ciptaan-Nya
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan
Kemandirian
3. Kejujuran/ Amanah dan Diplomasi
4. Hormat dan Santun
5. Dermawan, Suka Menolong, dan
Gotong-royong/ Kerjasama
6. Percaya Diri, Kreatif, dan
Pekerja Keras
7. Kepemimpinan dan Keadilan
8. Baik dan Rendah Hati
9. Toleransi, Kedamaian, dan
Kesatuan
Pilar-pilar tersebut dilengkapi
tambahan praktek dari Kerapian, Keamanan, Kebersihan, dan Kesehatan. Manual
pengajaran 9 pilar karater disediakan untuk guru, yang mencakup mengetahui
(knowing), merasakan (feeling), dan melakukan yang baik (acting the good).
Manual ini dilengkapi dengan 112 buku cerita yang terkait dengan setiap pilar.
Ada 10 buku display karakter dan kertas kerja dengan gambar-gambar berwarna
untuk anak.
II.
Kurikulum Terintegrasi Berbasis Karakter.
Model ini telah mengadaptasi
prinsip- prinsip pembelajaran terpadu ke dalam pendidikan berbasis karakter.
Menggunakan metode mengajar interdisipliner secara tematis, setiap pelajaran
(subjek) dalam kurikulum telah terintegrasi. Untuk Taman Kanak-Kanak (TK), ada
6 sampai 7 aktivitas, yang di dalamnya mencakup:
a. Imajinasi -di sentra ini anak
dicelupkan dalam kegiatan berfantasi dan berimajinasi untuk merangsang
kreativitas.
b. Aktivitas Rancang Bangun
– Kurikulumnya mendorong eksplorasi dan permainan dengan balok-balok kayu (dan
mainan-mainan lain yang sejenis). Kegiatan ini mengembangkan konsep dasar
spatial, logika-matematika dan rasa seni yang mendorong tumbuhnya karakter
percaya diri, kreatif dan pantang menyerah, dan kerjasama.
c. Aktivitas Koordinasi tangan dan mata (Seni dan
Kreativitas). Aspek kurikulum ini mencakup seni yang memungkinkan anak-anak
bekerja dengan tangan mereka. Contohnya, finger-painting (melukis dengan jari),
membentuk tanah liat, dan mencocok atau melipat kertas. Ini juga mencakup
olahraga dan aktivitas fisik seperti melompat, menendang bola, sepak bola, dan
kegiatan lainnya yang membutuhkan koordinasi bagian-bagian tubuh. Kegiatan ini
dirancang untuk meningkatkan penghargaan diri.
d. Eksplorasi -Aspek kurikulum ini
dirancang untuk menciptakan dan meningkatkan keingintahuan untuk belajar.
Kurikulum ini mengintegrasikan kognitif, sosial, emosi, fisik, dan pengembangan
moral sebagai dasar untuk eksplorasi. Kegiatan ini merupakan upaya untuk
tumbuhnya rasa keingintahuan yang besar sebagai dasar tumbuhnya karakter cinta
kepada Tuhan dan alam semesta, kasih sayang, kepedulian, kerjasama, pantang
menyerah, kerja keras, amanah, hormat dan santun. Bereksplorasi dengan
alam merupakan cara yang dapat membantu pembentukan jiwa yang penuh kepedulian,
kekaguman, cinta dan kasih sayang.
e. Alam –Aspek kurikulum ini dirancang
untuk menolong anak, tidak hanya balajar tentang alam (berkebun, ternak, atau
kolam ikan), tetapi juga untuk memiliki apresiasi dan penghargaan terhadap
alam. Anak-anak didorong untuk mengamati tanaman-tanaman yang bertumbuh,
memelihara, dan menanamnya, dan juga bertanggung jawab untuk memberi makan
binatang. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, anak-anak akan belajar
tanggung jawab, dapat dipercaya, empati, dan mencintai seluruh ciptaan Tuhan.
f. Akademik – Akademik sangat penting
dalam mempersiapkan anak-anak TK untuk memasuki Sekolah Dasar (SD). Huruf
alfabet dan angka-angka diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan dan menarik
(bukan mengajar membaca, menulis, berhitung).
g. Agama (optional) - Kurikulum
dirancang untuk membantu pengembangan spiritualitas dan atau moralitas. Ini
untuk membantu anak mengembangkan kecintaan pada Tuhan dan ketaatan serta
hormat pada Tuhan.
III.
Pembelajaran Menyenangkan, Aktif dan Hands-On .
Setiap aspek kurikulum diterapkan
menggunakan ” Active and Hands-on Learning ” dan pendekatan belajar
kontekstual, yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan
menantang.
IV.
Co-parenting
Para orang tua diberikan pedoman untuk menerapkan setiap pilar karater di rumah. Pada permulaan setiap pilar, masing-masing orang tau diberikan surat pemberitahuan yang berisi informasi pilar, definisi, dan daftar aktivitas yang direkomendasikan, yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Pada akhir periode pilar (2-3 minggu), setiap orang tua diminta untuk mengisi lembar kuesioner, yang menanyakan tentang pnegalaman mereka, perasaan, dan pengamatan atas perkembangan karakter anak mereka.
Para orang tua diberikan pedoman untuk menerapkan setiap pilar karater di rumah. Pada permulaan setiap pilar, masing-masing orang tau diberikan surat pemberitahuan yang berisi informasi pilar, definisi, dan daftar aktivitas yang direkomendasikan, yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Pada akhir periode pilar (2-3 minggu), setiap orang tua diminta untuk mengisi lembar kuesioner, yang menanyakan tentang pnegalaman mereka, perasaan, dan pengamatan atas perkembangan karakter anak mereka.
V.
Metode Evaluasi:
Para siswa dievaluasi dalam hal
perkembangan dalam kepribadian baik (karakter yang baik, kasih sayang,
kebaikan, dll), perkembangan dan keunikan talenta dan bakat, dan perkembangan
dalam kekritisan pribadi. Evaluasi menilai bagaimana para siswa dapat mengingat
informasi, mengerti, menerapkan, menganalisa, dan menyatukan
informasi/pelajaran.
Ujian terstandarisasi dan raport
dengan penilaian angka ( letter-grade ) tidak digunakan. Para siswa tidak
dibandingkan satu dengan yang lain, dan juga tidak diberikan label dalam cara
apapun.
Para siswa menunjukkan prestasi melalui portofolio,
proyek-proyek, pertunjukan, sosio-drama, essay/tulisan, diskusi perorangan
dengan guru dan siswa, tugas pribadi, dan juga prestasi perorangan dalam seni,
musik, matematika, menulis, ilmu pengetahuan (sains), dll (siswa unggul dalam
berbagai bidang/cara yang berbeda-beda).
selanjutnya
selanjutnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar